Ai
Beberapa yang lalu sempat merasa
tersentil dengan ucapan salah seorang sahabat. Waktu itu dia melihat catatan
baru yang aku tempelkan di dinding kamar tepat di depan meja dimana aku
mencurahkan semua bentuk kerjakeras atau sekedar menghibur diri dengan nulis,
ngobrol dengan teman lama atau nonton film. Memang kamarku nampaknya sudah
seperti dinding gedung SMA yang berisi banyak tempelan kertas warna-warni,
sticky notes dll atau lebih populer dengan sebutan mading. Banyak sekali jenis
kertas tempelan di kamar, dari mulai pengingat, kutipan dari beberapa orang
yang memberikan banyak energi positif, foto orang-orang yang aku sayangi,
daftar tugas kuliah dan beberapa tanggungan amanah yang sangat indah jika sudah
dicoret satu persatu, gambar beberapa tempat yang ingin aku kunjungi, hingga
peta dunia yang selalu mengingatkan aku betapa luasnya dunia dan aku hingga
sekarang masih setia di dalam sebuah pulau kecil bernama pulau Jawa, cerita
yang sedikit ingin aku ubah.
Sahabat tersebut memandangi dan
membaca satu persatu catatan kecil di dinding kamarku, aku biarkan saja karena
memang aku ingin ada orang yang membacanya untuk diri mereka sendiri, meskipun
aku sejujurnya selalu berharap hal itu juga akan membuat orang lain yang
membacanya menjadi pengingatku pada mimpi-mimpi yang telah berani muncul dan
menantang diriku dan pada akhirnya membuat kesepakatan denganku. Tiba- tiba
sebuah kalimat yang singkat tapi mengena, dia bertanya, “Dari sekian banyak
tulisan kamu kok ga ada yang ngomongin cinta” *Deg* aku akui iya, jarang sekali
aku menuliskan atau mungkin belum pernah sepertinya aku menuliskan tentang hal
tersebut. Bahkan di blog ini pun aku jarang sekali menyinggung masalah itu.
Jika tidak percaya silakan cek J,
memang cukup absurd blog ini, hoho.
Karenanya kali ini aku akan
sedikit menulis tentang Cinta. Mungkin ini adalah efek dari kegiatanku selama
seminggu yang hanya mendekam di kamar dan melahap beberapa novel dan film
tentang berbagai hal, sedikit bersinggungan dengan cinta yang isinya membuat
aku tersentuh :’). Meski film yang aku tonton dan novel yang aku baca tidak
melulu mengulas tentang cinta, bahkan diantaranya hanya sekiar 10-15%
mengandung unsur cinta, tetapi setidaknya ada beberapa hikmah dan makna dari setiap
cerita. Banyak sekali cerita tentang cinta yang masih belum banyak aku ketahui
dan sepertinya cukup sulit dipahami meskipun itu hal yang lumrah. Seperti cinta
seorang Ibu kepada anaknya dalam film Wedding dress, dan film ini cukup membuat
aku ikutan nangis karena emang sedih banget. Tentang seorang ibu yang berjuang
seorang diri membesarkan anaknya, dan akhirnya terpisahkan karena sakit ibunya.
Ada juga kakak beradik Yang yang (adik) dan Xiao Peng(kakak) dalam film Hear me
yang oke banget. kakak tunarungu hidup bersama adiknya yang normal, pengorbanan
kakak dan adik yang sama-sama saling menyayangi. Kemudian Cinta dua orang anak
mafia narkotik yang ditakdirkan untuk saling bermusuhan karena pembunuhan ayah
masing-masing, Miaa dan Johan dalam novel Metropolis. Cinta sahabat antara Jo
dan Vin dalam novel Berjuta rasanya, dua sahabat yang saling menyayangi dan
selalu memberikan dukungan, terutama Jo kepada Vin karena kekurangan mereka,
jauh dari kata cantik yang sebenarnya membuat mereka berdua cukup minder. Dan
terakhir kisah cinta yang membuat siapapun merinding, iri dan terharu. Sebuah
cerita yang akhir-akhir ini sedang banyak di bicarakan banyak orang, di dalam
dan diluar negeri, juga tak pandang usia. Habibie & Ainun.
Aku baru baca novelnya beberapa
hari yang lalu, hmm, tepatnya tiga hari yang lalu saat tiba kesempatan aku bertemu dengan novel itu. Meskipun sebenarnya
itu adalah novel yang sudah cukup lama, jujur saja aku baru bertemu dengannya
hari sabtu itu. Kebetulan sekali aku ga banyak kegiatan dan cukup kesepian di
kos yang udah bertransformasi menjadi sebuah bangunan kosong. Malam itu juga
aku mulai buka lembar pertama, tapi karena tubuhku rasanya mau remuk setelah
dua hari ada kegiatan di kampus, jadilah aku baca besok paginya. Bagaikan
sebuah candu, aku ga bisa berhenti baca. Setiap paragrafnya mengantarkan aku
pada sebuah sejarah yang indah. Mungkin agak berlebihan aku mengungkapkannya,
tapi kali ini aku serius. Efeknya muncul beberapa hari setelah aku
menyelesaikan baca novel tersebut, cerita tersebut masih menempel pada
neuron-neuronku…entah bagian yang mana. Bahkan waktu aku dengerin lagunya BCL
judulnya Cinta Sejati yang merupakan sountrack film Habibie Ainun, rasanya
seperti dihipnotis, hoho..bukan bukan..hanyut dalam lagu aja, meskipun aku sendiri
belum nonton filmya :P
Banyak hikmah yang bisa aku ambil
dari kisah eyang Habibie dan eyang Ainun. Betapa keduanya saling dapat
memahami, Habibie yang keras kepala dan memiliki prinsip yang kuat serta Ainun
yang dapat memahami keadaan, memberikan dukungan, mandiri. Keduanya memiliki
jiwa sosila yang tinggi, pekerja keras dan sebagainya yang tak mungkin aku
tuliskan disini. Kesimpulan yang aku dapatkan dari kisah cinta mereka adalah
cinta sejati, menjadi sebuah manunggal dalam satu jiwa, satu hati, meski dalam
dua raga yang berbeda, selalu dapat memahami meski hanya melalui tatapan mata.
“Hanya dengan tatapan mata saja
tanpa berbicara dapat berkomunikasi langsung dan mengerti isi hati serta
kehendak kami. Tiap manusia memiliki pancaindera. Misalnya, telinga dapat
mengangkap suara yang merambat dengan kecepatan 1.000 Km sejam, sedangkan mata
dapat menangkap informasi dengan kecepatan cahaya 1.080.000.000 Km sejam.
Memberi informasi melaui mata lebih cepat dan dalam waktu yang sama lebih
banyak informasi yang dapat diberikan dibandingkan telinga” (Habibie,
2010-dalam buku Habibie&Ainun).
Comments
Post a Comment