Renungan
Terkadang, kesendirian itu menjadikan kita sadar akan banyak
hal. Sendiri mungkin saja sangat banyak bentuknya. Mungkin benar-benar
sendiri secara fisik, atau kesendirian karena memang situasi disekitar terasa
begitu palsu. Banyak yang berlalu lalang disekitar, masih ada obrolan sebagai
layaknya seorang manusia, tetapi jiwanya tak ada..semuanya kosong. Dan saat
benar-benar sendiri seperti itulah kadang akan banyak sekali hal yang baru
disadari. Betapa bermaknanya orang-orang yang telah rela membagi waktu dengan
kita, memberikan senyuman hangat atau bahkan candaan yang terdengar menyakitkan
tapi ternyata jauh lebih baik dari pada tidak ada sama sekali. Mungkin disaat
seperti ini juga akan terbayangkan, bagaimana diri kita dimata mereka? apakah
kehadiran kita hanya sebatas angin yang lewat, menyegarkan tetapi cepat hilang
dan dilupakan, atau seperti sayatan pisau yang dalam, meskipun menyakitkan dan meninggalkan bekas tetapi setidaknya masih dapat diingat?. Kadang pikiran yang tidak-tidakpun bisa
muncul. Bagaimana seandainya saat ketika akhirnya raga ini memenuhi panggilan
Allah, meninggalkan kefanaan duniawi yang sangat menggoda ini. Apakah masih ada
ingatan diri dimata mereka, orang-orang itu. Bagaimana macam ingatan yang masih
melekat dihati mereka atau mungkin hanya mata mereka, tentang diri kita? Apa yang
telah dilakukan selama hidup telah dapat membuat orang lain tersenyum? Sejauh mana
kita di kenang, diingat?
Untuk direnungkan
Untuk direnungkan
Comments
Post a Comment