Makan apa?
Pernah gak sih suatu
ketika kalian ada dititik paling labil, paling bimbang, fells like you really
need some helps, need person to talk to, butuh orang yang bisa membimbing,
sharing about your personal opinion, but no one. Well, kali ini aku akan
berbagi sedikit pengalaman kegalauan beberapa waktu yang lalu yang sebenernya
mungkin biasa aja bagi beberapa orang, but for me, it was a bit distracting me.
[Disclaimer]
Sebelum aku mulai tulisan
ini, aku mau bilang kalau tulisan berikut might be little bit offensive karena
sebenernya ini berhubungan dengan kebiasaan dan keyakinan setiap orang yang
pasti punya pandangan berbeda beda. But you know, I’m not trying to be
offensive, ini murni pengalaman pribadi, pendapat pribadi. I do respect
people’s opinion. Kritik dan saran dipersilahkan, hehehe. And please correct me
if I’m wrong. Okay, so without any further do, let’s get started (ala ala
vlogger)
Seperti yang udah aku
ceritakan sebelumnya, sekarang aku tinggal di Thailand karena lanjut study di
sini. Tinggal di negara yang minoritas muslim itu gampang gampang susah.
Alhamdulillah aku masih di negara yang meskipun jumlah muslim disini itu dikit
banget, but they do respect other religions. Not only muslim, but also any
belief. Pertanyaan yang paling umum banget ditanyakan orang sekitar sebelum
berangkat adalah: makannya nanti gimana? Nanti susah lagi nyari makan Halal
disana dll yang sempet bikin aku kepikiran makan roti tawar tiap hari selama
tinggal di Thailand nanti. Bisa bisanya gak kepikiran masih ada sayur, buah,
ikan, telur dan banyak lagi.
Bisa dibilang kesulitan
nyari makan itu depends on situation. Aku bersyukur banget masih bisa nemu
makana halal, walupun ya adanya itu itu aja. Paling aman sih masak, cuma kadang
gak punya waktu untuk masak, kalo udah gini, makan apa aja jadi deh kadang
bikin telor ceplok setengah mateng sama roti gosong aja enak haha. Godaan
terbesar disini salah satunya adalah makanan, karena emang dasarnya aku suka
makan. Hahaha. Dan Thailand itu terkenal sama street foodnya yang ibaratnya
bisa ditemui dimana aja. Nah, disinilah kejelian mata diuji. Biar tau makanan
itu halal apa enggak. Sebenernya, di Thailand bagian selatan mayoritas muslim,
dan beberapa dari mereka ada yang merantau sampai ke tempatku disini. Nah
biasanya mereka jualan makanan, ditandai dengan logo Halal di stall nya, atau
minimal yang jualan pake kerudung atau peci (Btw ini gak tipu tipu kayak pura
pura berpakaian muslim biar dikira makanannya halal, gak sama sekali as far as
I know. Mereka beneran Muslim setauku sih mereka masih keturunan melayu. Aku
tau ini karena punya banyak temen dari daerah Thailand selatan, dan biasanya
ketemu kalo sholat di “Masjid” kampus).
Salah satu hal yang selalu
aku ingat waktu pelajaran agama jaman SD dan belajar di madrasah, ustad dan
ustadzahku pernah bilang, diharamkan makan daging babi, anjing, dan darah.
Well, ini kayaknya semua orang muslim bahkan non-muslim pasti tau ini. Tapi
gimana sama ayam, sapi, kambing? Ini yang paling buat aku dilema, karena yang
aku tau, ayam sapi kambing tetap haram kalau cara motongnya gak sesuai dengan
ajaran islam. Tapi kebanyakan temen temen disini gak peduli ttg itu, dengan
berdalih selama itu gak babi atau darah. I was so confused, either I was misunderstood
or they are? Akhirnya aku tanya lagi ke ibuku just to make sure ingatanku gak
salah. I knew the answer, I knew exactly what to eat and not to eat. Rasanya
aku gak mau melanggar perintah Allah, menggadaikannya dengan makanan yang kalau
udah dicerna paling lama bertahan 4-8 jam aja karena abis itu laper lagi. Jangankan
tergoda, baru liat aja selera makanku udah ilang kok. The hardest part is to
make them understand that I don’t want to eat something that absolutely
prohibited for me, and actually for you too since you guys are muslim too. Tapi
seperti yang aku bilang sebelumnya, I do respect your opinion and choices, once
I told you about it but you resist it, I will just let you go. Because I can’t
force you to do so, to believe what I believe. Jadi, semenjak disini aku jadi
picky eater banget, susah banget menetukan makanan apa yg bisa aku makan. Yang
bikin dilema lagi adalah ketika ada acara makan makan bareng, aku bakalan susah
banget nyari makanan. Alhamudillahnya
temen temenku di lab sangat mengerti aku, jd kalau mau makan diluar mereka
selalu memastikan, apakah ada makanan yang bisa aku makan atau enggak. Haha.
Oke balik lagi ke topik
utama. Kegalauan tentang makanan ini berlangsung selama sekian lama, hingga
akhirnya aku gak sanggup lagi. Bukan aku gak sanggup pingin banget makan daging
sapi kambing atau ayam karena walaupun jarang, tapi aku masih bisa makan daging
dagingan kok (dikantin Halal kampus ada, atau kalau ke Mall disana ada food
court yg menyediakan Halal food) atau kalau mau masak aku masih bisa cari
daging halal di Tesco atau BigC. Hal yang bikin aku gak sanggup itu entah
kenapa rasanya susah banget menjelaskan cara pikirku yang mungkin bagi mereka
“terlalu kaku” walaupun kadang aku gak ngerti apakah batasan kaku itu? How kaku
the kaku is? Bahkan ketika di Al-Quran udah jelas tertulis tentang hal ini. Sedih
gak sih rasanya melihat temen temen sesama muslim gak peduli dengan itu, bukan
ngerasa paling bener, tapi apa salahnya menyuarakan kebenaran? Atau seengaknya
bertindak sesuai dengan aturan?
I would be really honest
that I’m tired of this. I need something to hang on. I was craving for
something that can boost me up, sesuatu yang bisa menegaskan kalau apa yang aku
lakukan gak aneh, aku butuh pengingat atau bahkan kalau perlu aku butuh sesuatu
yang bisa menampar, gak papa deh asal sadar. Tau gak sih rasanya kayak, kamu
percaya akan suatu hal tapi karena orang orang disekitarmu menganggap
kepercayaanmu itu aneh dan berlebihan bahkan kalimat kalimat tersebut dilontarkan
oleh mereka yg harusnya be on your side, but they are not, terus kamu jadi
mikir, aku salah ya?
Hingga akhirnya, suatu
pagi setelah subuh dihari dimana ke galauanku bener bener lagi dipuncaknya,
ketika sedang tadarus, aku sampai pada surat ke 5, Al maidah, ayat 3 yang
berbunyi:
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ
وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ
وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا
مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِالْأَزْلَامِ
ۚ ذَٰلِكُمْ فِسْقٌ ۗ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ
وَاخْشَوْنِ ۚ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي
وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ
لِإِثْمٍ ۙ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi,
(daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang
terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang
sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk
berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi
nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir
telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut
kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk
kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai
Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa
sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Slap! Rasanya kayak
ditampar, ditengah kegalauan itu akhirnya tamparan yang udah lama aku nantikan
datang juga. Rasanya kayak dingatkan, udah jelas jelas tertulis di Al-Quran kok
masih nanya nanya, dasar Norma! This is exactly what I had been searching for.
Sering aku denger alasan klasik,
kalo aku terlalu kaku, aku makan apa
disini?
Oke nih ya aku gambarin betapa
makanan halal banyak tersedia sebenernya. Disini masih ada telur, sayur, produk
olahan ikan, mie instant yg berlabel halal walaupun ya emang matanya harus jeli
tapi aku yakin mesti ada Indomie aja ada, bahkan makanan instant di convenience store mesti ada
yg halal walaupun ya Cuma 3/50 tapi kan ada gitu lo, terus misal pingin makan
yg agak berdaging dikit, bisa ke mall, buat ngobatin rasa rindu sama rasanya
daging, biar gak lupa gitu the taste of the beef, hahaha. Jadi sebenernya hidup di
Thailand itu ya gak susah susah banget cari makanan halal, atau sebenernya di
negara manapun kamu berada, karena yg diharamkan buat kita udah disebutin semua
kok diatas (Al Maidah: 3), jadi tinggal kitanya aja mau berusaha atau enggak.
When there is a will there is a way. So, semua tergantung kemauan dan niat sih
sebenernya.
Ya udah ya, kira kira itulah
curcolan salah satu dilemanya, deritanya, paitnya ngerantau di negara minoritas
muslim. Tapi tetap ya kita harus menghargai kebiasaan di negara manapun kita
nebeng tinggal. Ketika mereka makan atau melakukan ritual yg beda sama kita,
respect it. Ketika aku bilang respect it, bukan berarti kita harus ngikutin,
jelasin hal yang gak bisa kita lakukan dengan alasannya, aku yakin mereka akan
paham. Karena kita juga pingin dihargai kan?
Maafkan kalimatnya
amburadul banget. Sejak tinggal disini aku tebiasa denger minimal 3 bahasa mix jadi
satu, dan aku harus komunikasi dengan 2 diantanya. Efek jangka panjangnya
ternyata bikin caraku ngomong makin gak jelas. Mungkin next time aku cerita tentang
kendala Bahasa dll di postingan selanjutnya. Gak janji, tp aku pingin share tentang
ini juga sih, hopefully next time. Ah udah ah curcolnya, Oke sekian bye.
PS. kalau mau komen komen aja ya (hihi geer banget sih. Eh tp siapa tau gitu bisa saling berbagi opini gitu kan, haha), nanti aku bales via post blog ya. Fitur reply blog ini masih bermasalah, sedih deh 😓
PS ke dua. susah banget mikir judul yg pas buat postingan ini. Hahha, maklumi lah kalimatnya gak menjual bgt 😂
Comments
Post a Comment