Ikhlas
Belajar ikhlas bukan lah sesuatu hal
yang mudah. Gampang sih ngomong “aku ikhlas kok” tapi dalam hati, kadang diri
sendiri aja gak tau ikhlasnya beneran ikhlas apa enggak. Nah kan
Dalam hidup, banyak sekali hal yang
bikin kita mikir seribu kali untuk melepaskan, untuk mengikhlaskan apa apa yang
sebenarnya bukan milik kita, entah rejeki maupun jodoh. Ya mungkin balik lagi
ke sifat manusia yang emang dasarnya rewel dan susah dikasih tau. Kalaupun udah
tau, masih keras kepala aja, terus hasilnya gak sesuai ekspektasi, akhirnya kecewa
deh. Jadi, kadang kekecewaan itu datangnya ya dari sendiri. Karena udah mikirin
akhir yang happy ending, tapi ternyata gak sesuai. Ya macem nonton End game
deh, udah semangat 45 buat nonton, ujung ujungnya sedih Laaah spoiler
Padahal, Allah udah menjamin yang
terbaik buat kita. Yang paling pas buat kita. Tapi lagi-lagi kita masuk ke
lubang yang sama “kekecewaan”
Satu satunya cara bisa keluar dari
nestapa ini adalah dengan belajar Ikhlas. Walapun dalam kbbi mungkin ikhlas dan
kecewa bukan antonym, aku rasa dua kata ini punya korelasi negative. Ketika
kita bisa ikhlas, maka kecewa itu akan hilang. Sebaliknya, ketika kita memupuk
kekecewaan, makin susah untuk belajar ikhlas.
Keuntungan langsung yang bisa kita
dapatkan, meskipun gak kita sadari salah satunya itu hati yang terus jadi adem
ayem. Misalnya, ada dua orang berbeda sama sama kehilangan uang 1 juta. Bukan jumlah
yang sedikit kan ya bisa buat beli beras berkilo kilo. Hehehe. Satu orang ini
kecewa berat, ngerasa uang 1jt yg bisa dipake buat beli macem macem ilang gitu
aja. Sementara satu orang lainnya ngerasa santai, bukan berarti karena dia lebih
kaya atau gak butuh uang itu, tapi dia lebih bisa menerima dan menganggap uang
yang hilang itu mungkin memang bukan rejekinya. Jadi, dua orang ini sama sama
kehilangan uang, tapi yang satu dibikin santai, yang satu masih nyesel dan larut
dalam kekecewannya.
Jadi, ketika kita kehilangan
sesuatu, dari pada kecewa sebaiknya selalu ingat, bahwa apa apa yang terjadi
itu ada alasannya. Ketika ada yang hilang dari kita, mungkin memang bukan hak
kita, bukan hal yang baik untuk kita. Kecewa mungkin memang sifat yang pertamakali
akan muncul ketika kita kehilangan sesuatu. Yang menjadi berbeda adalah ketika
ketia memnutuskan, akankah kita berlarut dalam kekecewaan itu atau mengikhlaskan.
aku setuju, ^^
ReplyDeletesumber ke kecewaan adalah keinginan dan harapan .. semakin banyak ke inginan dan harapan maka semakin besar juga ke kecewaan yang akan di dapat manusia ..
kesalahan tidak pada keinginan dan harapan seseorang .. tetapi kesalahan ada pada "kepada" siapa/apa kita menggantungkan harapan..
salah satu makna keikhlasan adalah sebagaimana yang disebutkan lagu kasih ibu, hanya memberi tak harap kembali.. dan kalimat yang kita baca setiap hari, "Hanya kepadaMu lah aku menyembah dan hanya kepadaMu lah aku memohon pertolongan"
atau bisa di terjemahkan hanya kepadaMu aku meminta dan hanya kepadaMu aku berharap ..
tinggalkan semua keinginan dan harapan pada dunia dan seisinya..
hanya gantungkan keinginan harapan pada Allah .. semua masalah hati selesai :)
hati pun Ikhlas..
Indeed
Delete