My time
Duh pingin
banget mulai nulis lagi, tapi kok mager sekaliii. Tapi karena efek WFH kali ini
jadi lebih banyak waktu nganggur, dan entah kenapa aku gak bisa diem dan
rebahan doang walaupun banyak waktu luang kayak gini. So, I’ll try to write something.
My time.
Waktuku, bukan waktumu.
Kamajuan
teknologi jaman sekarang sih, duh udah lah jangan ditanya lagi. Cepet banget.
Bahkan seiring dengan kemajuan teknologi yang pesat, aku sendiri ngerasa banyak
ketinggalan informasi. Padahal, aku tipe orang yang selalu menyempatkan diri
baca berita terbaru tiap pagi dan lumayan update informasi paling anyar,
walaupun gak semua informasi bisa aku ikutin. And those things were finally
floating and running in my mind. Iya isi kepala jadi sibuk sendiri dan capek
akhirnya. Terus pada akhirnya there were times when I felt so left out of this
world. Gak ngerti, eh ada apa lagi sih ini dunia? Kalo udah gini, emang waktu
terbaik buat tinggalkan semua sosmed, semua gadget, hp laptop. Dan ambil satu
buku sambil menikmati secangkir kopi hangat.
Sosial media
mungkin jadi salah satu wadah paling banyak dinikmati semua kalangan. Gak
peduli berapa usiamu, your gender identity, pekerjaanmu, status sosialmu.
Hampir semua orang main sosmed. Sayangnya, justru karena ini banyak orang yang
berlomba dan terlalu memaksakan diri untuk menampilkan sisi terbaiknya.
Sebenernya ya emang gak papa, and it’s totally fine karena akupun gitu, haha. I
didn’t say it’s right just because I’m doing it. Hal yang selalu aku pikirin
saat ngeshare sesuatu, will this hurt someone? Will this make people think
differently about me? Rather than sympathy, will people judge and laugh over my
misery, dan pada akhirnya sampai pada kesimpulan, that’s filters are
used for. Untuk menyaring hal yang perlu dan tidak perlu dibagikan, without
trying to manipulate it. Yes,I’m filtering it, but I’m not faking it.
Yang gak bagus ngapain di share kan ya? It was pretty unnecessary to share
my tears in front of the camera; I no need everyone sees my scars. I just want
to tell everyone I am doing okay.
Ibarat film, yang kita tonton itu kan film yang udah jadi dan siap dinikmati. Gak mungkin kan mereka masukin bloopers kedalam film yang dibuat. Dan dibalik layar, ada usaha keras sampe berkali-kali take untuk mendapatkan hasil yang sempurna.
Dan karena hal ini pada akhirnya, muncul lah utopian life di
sosmed. Dunia dimana semua orang living their best life, tanpa cacat dan cela.
Pada akhirnya beberapa orang yang kebingungan dengan semua ‘kesempurnaan’
standard hidup di sosial media mulai mempertanyakan dirinya ‘kayaknya hidupku
datar banget deh, kayaknya aku gak ada kemajuan, hidupku gini-gini aja’ muncul
lah self-low esteem. Sebenernya ini sebuah fase. Terutama waktu harus melewati
critical quarter life. Sebenernya usia menjelang 25 tahun itu bisa jadi fase
yang sulit bagi beberapa orang. Karena umunya diusia menjelang 25 tahun adalah
masa dimana kita baru aja lulus, menikmati gaji setelah kerja keras selama
sebulan, atau menjalani kehidupan yang baru dengan orang yang disayangi. Semua pilihan yang ditawarkan diusia ini bener-bener berasa kayak menetukan kehidupan 10 tahun kedepan mau jadi apa aku. Padahal kenyataanya gak gitu. Ibaratnya jalan menuju Roma aja ada seribu, apalagi jalan dikehidupan kita yang gak bisa diprediksi.
Memang kadang, hidup gak semudah kita nyusun itinerary jalan-jalan sama squad kita.
Hidup yang tertata dan terencana dengan baik, belum tentu bisa berjalan mulus,
atau sebaliknya, hidup yang penuh dengan ke-impromptu-an (duh bahasaku aneh
bet), bisa jadi lebih mulus lancar jaya. Tahun ini usiaku 27 tahun, siapa
sangka aku jadi pribadi yang seselow ini masih aja sekolah dan belum mikir kearah nikah ketika rata-rata teman seusiaku feed instagramnya isinya foto bayi. Hahahah. Padahal, waktu usiaku 20 tahun, rencanaku 10 tahun kedepan
itu diusia 27 tahun aku punya seorang putri yg lucu bernama Hana. Ya Allah,
kocak banget kalo dipikir, beneran ya manusia itu cuma bisa berencana. Dan sekarang,
aku masih menikmati hidupku sendiri. Apa aku menyesal dengan keputusan yg aku
ambil sekarang? Sama sekali enggak. Sejauh ini aku selalu menikmati setiap
perjalanan yg aku lewati. Karena aku percaya, inilah waktuku buat melakukan hal
ini daripada hal yang lain. I mean, everything happens for reasons kan?
Seperti yang aku bilang diawal, setiap orang punya waktunya
sendiri-sendiri. Ada hal yang harus dikorbankan atau direlakan. Rasanya akan
sulit buat menjalani semua hal yang kita mau dalam waktu yang bersamaan. Akan sulit
buat aku untuk terus dekat dan ketemu orang tuaku setiap hari ketika yang aku
mau itu melanjutkan study-ku. Akan sulit juga punya waktu tidur yang ideal ketika
yg aku mau itu menyelesaikan tugas kuliah tepat waktu dan mengerjakannya dengan
baik, dan akhirnya 4 jam tidur bagiku udah lebih dari cukup.
Kembali lagi ke ‘waktu’ yang dimiliki tiap orang. Percayalah,
setiap orang punya waktunya masing-masing, akan ada waktu dimana fase itu akan datang dan harus kita hadapi. Ada waktu dimana kita harus memilih, belok kanan, belok kiri atau lurus aja. Apapapun keputusan yang dipilih oleh setiap orang, dibalik itu semua ada beberapa hal yang
mereka relakan atau korbankan, dan kita gak akan pernah tau behind the scene kehidupan
mereka. So stop complaining about your life, stop comparing yourself with
others, because most of the time we do not know what’s going on behind their
curtains. We might running in circle or stuck in this moment , but trust me eventually we will go through it.
Like the flowers, we bloom at the different time.
Comments
Post a Comment