Biaya, kendala riset di Indonesia



Teknologi yang bermunculan saat ini merupakan hasil dari riset yang telah dilakukan selama bertahun-tahun. Kita dapat merasakan manfaatnya sekarang. Perkembangan riset dan teknologi di dunia telah banyak kita lihat. Kontribusi yang paling banyak kita rasakan manfaatnya yaitu teknologi internet, teknologi tarnsportasi dan teknologi energi serta teknologi bahan pangan. Seperti pada masa Revolusi Industri beberapa tahun lalu, masyarakat Inggris mengembangkan ampas kentang sebagai pengganti bahan bakar kendaraan. Dan yang sedang booming saat ini yaitu teknologi energi yang memanfaatkan tanaman tertentu, seperti singkong dan jagung, sebagai bahan bakar. Teknologi dalam bidang astronomi dan antariksa, yang membuat kita bisa mengamati jagat raya dari luar angkasa, juga semakin berkembang dewasa ini. Teknologi-teknologi tersebut tentu juga diperoleh dengan melakukan riset terlebih dahulu. Dan selanjutnya, teknologi-teknologi tersebut yang akan membantu melakukan riset-riset selanjutnya.
 Namun sayangnya di Indonesia sendiri riset masih sangat tertinggal jauh jika dibandingkan dengan negara-negara lain seperti Amerika , Jerman, Jepang dan lain sebagainya. Bukan karena sumber daya alam kurang memadai, bahkan jika dibandingkan dengan negara lain Indonesia memiliki potensi besar untuk di jadikan lahan riset, terutama yang berkaitan dengan keaneka ragaman hayati. Ini merupakan salah satu hal yang menarik dari Indonesia. Bahkan banyak sekali peneliti  dari luar negeri yang ingin mengembangkan risetnya di Indonesia.
Menurut data dari Kementerian Riset dan Teknologi peneliti asing tersebut berasal dari berbagai negara seperti Amerika Serikat, Jepang, Prancis, Inggris, Jerman, Belanda, Australia, Italia dan Kanada. Jumlah peneliti terbanyak berasal dari Amerika Serikat sebesar 28 persen, disusul Jepang 20 persen, Prancis 16 persen, Inggris 11 persen dan Jerman delapan persen. "Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang menjadi daya tarik peneliti untuk melakukan penelitian," kata Teguh Triono. "Mereka kebanyakan meneliti keanekaragaman hayati, baik itu tumbuh-tumbuhan, hewan maupun bidang lainnya," tambahnya. (Republika.co.id, Desember 2011)
Jadi bukan karena alam yang tidak mendukung, tetapi karena sumber daya manusia yang kurang, karena masih ada kecenderungan untuk tidak peduli dengan riset di Indonesia. Kebanyakan masyarakat enggan untuk melakukan riset karena faktor ekonomi. Modal yang cukup besar membuat masyarakat berasumsi bahwa suatu riset membutuhkan dana yang besar. Padahal jika dicermati lebih lanjut, manfaat dari sebuah riset itu akan lebih berharga dan bernilai besar dari pada modal yang diberikan untuk riset tersebut.
Contoh dari riset yang membutuhkan dana besar, seperti yang disampaikan  Direktur Utama Bio Farma,  untuk pengembangan dan riset terhadap sejumlah vaksin yang diproduksi Badan Usaha Milik Negara bidang kesehatan, pemerintah pusat telah menganggarkan Rp 100 miliar per tahunnya. Bahkan dua Badan Usaha Milik Negara (BUMN) farmasi mengeluhkan besarnya biaya melakukan riset untuk menemukan obat baru, yang mencapai kurang lebih Rp2,7 triliun (Tribunmanado.co.id, Oktober 2011)
Di sini terlihat sekali betapa riset Indonesia masih butuh perhatian lebih dari masyarakat dan pemerintah. Sumber daya alam yang cukup memadai seharusnya bisa menjadikan masyarakat lebih tertarik untuk mengembangkannya menjadi suatu produk yang bermanfaat. Asumsi bahwa riset membutuhkan biaya yang besar sudah seharusnya dihilangkan dan mengajak semua kalangan khususnya generasi muda untuk mulai bergerak mengawali perubahan dalam mengembangkan riset dan teknologi di Indonesia.
Oleh karena itu, keberadaan lembaga-lembaga riset dan teknologi sangatlah dibutuhkan saat ini. Khususnya di lembaga-lembaga pendidikan, tak terkecuali di perguruan-perguruan tinggi, untuk membangkitkan kembali semangat para generasi muda dalam mengembangkan riset dan teknologi.




Comments

Popular Posts