Not a Nightmare, Not a Daydream..it's real

Kali ini adalah petualangan yang terjadi di malam hari hingga dini hari. Mungkin ini adalah pertama kalinya, mengingat gender dan peraturan kosku juga yang punya jam malam sampe jam 10 malam, jadi jarang banget aku beraktifitas malam di luar (lagian mau ngapain juga yah -_-). Oke, kali ini pemeran utamanya adalah aku dan puspa.

Cerita dimulai dari siang hari selasa, hari dimana teman-teman seperjuangan termasuk aku juga sedang bersiap-siap untuk melunasi kredit laporan yang dikumpulin hari rabu. Tapi untungnya aku agak enak karena dapet asisten yang lumayan santai banget sama laporan(santai belum tentu menyenangkan, dan ternyata memang benar) , dan untuk pengumpulannya terserah sama praktikannya J jadilah aku masih belum begitu ribet sama laporan (mungkin minggu depannya giliran aku yang nangis-nangis dihadapan folio bergaris lagi). Oke kembali ke cerita. Hari itu orang tua puspa sama adiknya mau berkunjung. Karena dalam rangka liburan adiknya puspa yang belum pernah dan sangat ingin naik kereta, akhirnya orang tua puspa memutuskan unutk ke semarang dengan menggunakan kereta sore, dan kemungkinan sampai di semarang jam 11 malem. singkat cerita aku nemenin puspa untuk menjemput orangtuannya puspa ke tawang, gak tega juga yah membiarkan si ‘Ibu’ pergi sendiri menjelang tengah malam. dengan berbekalkan billa-nya dea (nama ini diberikan oleh ifa, yang artinya beatnya Dea lamban, haha..emang dea ini lamban banget pergerakannya, haha sorry ya de, tapi adikku pun tau kalo bohong itu dosa..jadi mendingan aku jujur aja :P ).

Kita berangkat dari kos sekitar jam 10 malem, padahal itu adalah waktunya penjara kami ditutup. Tapi karena udah ijin juga sama opsir *ups, bapak penjaga kos, jadilah kami berhasil keluar. Agak aneh juga rasanya keluar malem. Yah, mungkin karena ga terbiasa. Dan hal yang aku suka adalah, jalanan yang sepi J
Selama perjalanan menuju tawang, rasannya datar datar aja, begitu kita sampe di persimpangan *yang kesekian bingung antara belok kanan atau kiri, kita awalnya pilih kiri. Karena terdengar suara kereta, kita yakin kalo jalan yg  diambil udah bener, tapi lama kelamaan tempat itu agak gak asing (terutama buat aku yang baru pernah nyicipin stasiun poncol aja) dan yah bener aja ternyata kita salah stasiun, jadi kita malah ketemu poncol. Langsung kita muter dan mencari jalan yang agak bener. Di sepanjang jalan, aku yg kepo sama dunia malam tengok kanan kiri, karena pernah denger sih katanya kalo malem itu banyak mahluk malam, mungkin sejenis mamalia nokturnal, hmm..Homo sapiens yang udah bermutasi karena umumnya Homo sapiens kan mahluk diurnal. Tapi ini beda, mereka ini adalah makhluk yang mencari nafkah melalui berbagai jalan menyimpang yang sepertinya nowadays makin marak aja. Memasuki sebuah jalanan gelap, aku dikagetkan oleh suara yang datangnya dari sebuah tempat semacam warung tenda, kebanyakan dangdut dengan suara yang agak berlebihan. Waktu aku nengok dan coba menginitip dari jarak jauh warung-warung itu kok kosong, ga ada dagangnannya dan Cuma ada suara aja, semakin dalam ke jalan itu banyak banget bilik-bilik dari kayu dan triplek seadannya dengan backsound yang ga beda jauh dari warung yang aku temui diujung jalan pertama. Hmm, tempat apakah itu? Wallahua’lam. Aku juga ga berani liat *dan akhirnyakurang lebih aku tau tempat apa itu, jawaban yang aku temukan saat kuliah Biologi Tanaman Obat, ceritannya waktu itu lagi membahas tentang jenis obat tradisional ilegal yang salah satu  tempat penjualan paling laris adalah warung dan bilik dengan dangdut lebay, kira-kira obat apa hayoo, cluenya pasak bumi.

Beberapa saat kemudian, puspa mulai inget jalan lagi, Alhamdulillah J tapi ternyata itu gak berlangsung lama karena kita kemudian dihadapkan pada tiga pilihan yang jelas-jelas aku gak tau jawabannya, dan sayang sekali puspa lupa sama simpangan mana yang harus dipilih. Nah spontan aja, “yang kanan pus” padahal aku gak tau ada apa dan apakah itu jalan udah bener apa salah. Dan ternyata, sebelum kami mengambil jalan paling kanan, kami diperlihatkan dengan pemanangan yang, errr. Sebuah mobil dengan *lagi-lagi dangdut koplo dengan high tone yang membuat siapapun yang lewat akan menoleh* dirubung oleh mahluk yang dari jauhpun jelas-jelas terlihat sebagai wanita dengan pakaian yang ‘gak banget’ dan tidak cocok untuk dipakai keluar apalagi ditengah malam. Dan, you know what I mean lah sama cewek-cewek itu. Hmm, jadi gitu salah satu fenomena sosial yang masih menjadi momok di indonesia itu. Rasanya darah ini berdesir, otak berteriak, otot menegang dan mungkin hati ikut merinding *lebay banget perumpamaanya -_-, yah jujur aku merasa takut dan ngeri membayangkan kehidupan mereka sehari-hari. Miris juga melihatnya, dan aku menjadi sangat amat bersyukur karena Allah dan orang-orang disekitarku, terutama kedua orang tuaku memberikan perlindungan ekstra dan memberikan kehidupan yang lebih layak tanpa syarat :’)

Ternyata hal yang sama juga dirasakan puspa, tanpa pikir panjang puspa langsung balik arah dan ngambil jalan yang ada disebelahnya. Hmm, aman aman..salah satu jalan yang dipikirkan puspa waktu itu adalah segera menemukan pos polisi. Hmm, mungkin kali ini yang dipikirkan puspa adalah cara ter aman. Jadilah kami melaju lurus. Karena masih siyok sama pemandangan tadi, kita ga memperhatikan jalanan sekitar, baru ketika ada salah seorang bapak yang tiba-tiba berteriak “wah pelanggaran mba, pelanggaran”  aku baru melek betapa kita sepertinya melakukan kesalahan. Puspa awalnya belum sadar dan tetep dalam 40 km/jamnya. Sementara aku mencerna kata-kata bapak tadi dan “pus, belok pus..belok, ini jalan satu arah, salah jalur kita” dan baik lah kami berbelok tepat satu bangunan sebelum pos polisi ditemukan. Ini sih namanya ulo marani gebuk, menyerahkan diri. Akhrinya bapak yang tadi menegur kami menunjukkan jalan yang benar J waah, terimakasih bapak, hampir kami melakukan tindakan konyol yang seharusnya ga perlu dilakukan.

Sesampainya di stasiun, waktu mau masuk ke pintu masuk motor, puspa tiba-tiba membelok dan keluar. Gak jadi masuk kita, karena ternyata. . . dia lupa bawa stnk. Hmm, baiklah. Jadi kita hanya bisa nunggu diluar duduk di tempat yang agak rame dengan mencari kaum sejenis, agak serem juga kalo ngumpulnya sama om-om, iyuuuh.
Bagaimana perjalanan kami selanjutnya? Berhasilkah kami dengan misi hari itu? *iiish apa sih -_-
Dan ternyata cerita bersambung ke postingan selanjutnya :P Haha..
Xiexie, ZaiJiaaan :D

Comments

  1. aku pikir ini cerita drama stasiun poncol
    hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. ah, itu lucu siih..tapi aku gak ngalamin jadi aku bingung mau ngambil sudut pandang mana :P
      ada di blog dea pus..baca deh

      Delete
  2. sip baca ya pus haha, oke nor itu agak bikin envy..

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha, coba aja de..seru banget, bikin degdegan

      Delete

Post a Comment

Popular Posts