Don't Worry, Stay Positive

Beberapa hari yang lalu sepertinya ada sebuah peristiwa yang sebenarnya beberapa kali sering terjadi, dan beberapa kali pula sering banyak kontroversi. Apakah itu? Yup, kenaikan harga BBM. Sebenernya sih terlepas dari setuju atau tidaknya kenaikan BBM ini, banyak sekali hikmah yang bisa kita ambil. Well, disini mungkin aku gak akan bercerita banyak tentang keluh kesah kenaikan harga BBM itu yang dampaknya berimbas pada harga kebutuhan pokok yang lain *sejujurnya aku sedihnya karena cabe juga naik harganya, huhuhu. Kalo beli bakso sekarang dibatesin sambelnya -_- ataupun segala argumen yang membenarkan dan mendukung kenaikan BBM. Sekali lagi, mari kita ambil dari sisi positifnya.

Banyak yang bilang kalau BBM naik, pasti semua ikut naik. Benar J banyak yang bilang kalau BBM naik harga angkutan umum naik juga. Benar sekali J dan banyak yang bilang juga kalo BBM naik pemerintahnya itu jahat dan tidak memikirkan nasib rakyat kecil. Kalo yang satu ini Wallahua’lam. Tapi ingatkah kalian, bahwa sebenarnya apa yang kita khawatirkan mengenai dampak kenaikan BBM mungkin akan lebih baik jika tidak dipikirkan terus menerus, sampe stress dan rambut beruban semua (hehe, lebay ini sih). Loh, kenapa? Gimana gak mikir, semuanya jadi repot, semuanya jadi mahal, harus irit ini itu, mau beli apa aja mikirnya seribu kali. Hmmm, gimana dong ya? Hihi. Jadi gini, beberapa waktu yang lalu ketika membaca sebuah buku yang berjudul “Happiness Inside” ada sebuah pola pemikiran unik tapi menarik dan aku memutuskan untuk mencoba untuk melatih kebiasaan ini, yaitu bahwa kecemasan, kekhawatiran tidak akan merubah apapun yang menjadi masalah kita. Contoh praktisnya begini, ketika kita cemas, khawatir masuk kelas terlambat gara-gara ada macet sepanjang jalan ke kampus, lalu apa bisa kekhawatiran kita menyulap jalan menjadi kosong mlompong sehingga bisa langsung sampai dikampus tepat waktu? Atau ketika kita merasa khawatir karena jemuran yang menggunung dan baru dijemur tadi pagi harus rela terkena guyuran air hujan, apa iya kekhawatiran kita langsung bisa nyetop hujannya? Kalian pasti tau jawabannya kan J. Ya suka-suka doong, cemas cemasnya kita, khawatir khawatirnya kita, emang gak boleh? Nah begitulah kita, selalu diberikan kesempatan terbaik untuk memilih. Cemas boleh, khawatir boleeh, terserah kita mau melih yang mana. Tapi kalau bisa membuatnya lebih rileks dengan memikirkan segala hal yang positif dan melihatnya dari sudut pandang yang lebih nyaman kenapa gak dicoba?

Dalam tubuh kita banyak sekali sistem hormon yang mengatur kerja tubuh kita, baik yang sifatnya membangun, atau merusak. Jika diminta untuk memilih, kita pasti menginginkan hormon yang mengatur tubuh kita berjalan dengan baik kan?  Mungkin kalian pernah mendengan ada hormon yang namanya endorfin, epinerfin? Keduanya ada didalam tubuh kita dan bekerja atas respon yang dikirimkan oleh otak kita. Secara garis besar, aksi yang ditimbulkan oleh epinefrin antara lain : menambah kadar gula darah (hiperglikemik), merangsang adenohipofisis untuk pelepasan ACTH, meningkatkan konsumsi oksigen dan laju metabolisme basal, menaikkan frekuensi (efek kronotropik positif) dan amplitudo kontraksi jantung, dilatasi pembuluh darah di otot rangka dan hati, keresahan, kecemasan, perasaan lelah, mengurangi kadar eosinofil, meningkatkan kecepatan tingkat metabolik yang independen terhadap hati. Sedangkan endorfin atau yang lebih kita kenal sebagai hormon kebahagiaan berperan dalam proses kekebalan tubuh. Artinya, selain mencegah memburuknya emosi kita, bahagia juga merangsang timbulnya zat imunitas. Dengan endorphin perasaan kita akan lebih rileks, dan tentunya kita pun akan lebih mudah mengontrol nya. Mengontrol diri kita dari amarah sekaligus berpikir positif dengan mengutamakan kesabaran.

Kedua hormon tersebut diproduksi atas adanya respon yang terjadi pada diri kita, saat kita marah, kecewa, cemas, gelisah, maka hormon epinerfin akan meningkat. Sebaliknya, saat kita bahagia, rileks, tertawa, maka hormon endofin akan meningkat. So, which one will you choose?

Oke, selanjutnya mungkin aku gak akan melanjutkan obrolan mengenai hormon-hormon itu. Poin pentingnya disini adalah, kecemasan, kekhawatiran justru akan membuat kita susah untuk berfikir jenih, dan sulit untuk memperoleh kebahagiaan dan lebih buruknya, akan dihasilkan hormon yang ternyata memiliki sifat kurang baik bagi tubuh kita. Lalu gimana kalo masalah-masalah datang? Kalimat yang berkali-kali aku dengar dan aku dapat dari bapakku sendiri, ketika ada suatu hal yang membuat cemas, ingatlah ada Allah yang menjamin semuanya akan baik-baik saja. Misalnya kembali lagi pada kasus kenaikan harga berbagai kebutuhan, tenang aja..ada Yanga Maha Kaya, yang selalu memberikan kenikmatan luar biasa yang jarang kita sadari dan jarang pula kita syukuri, kalo kalian udah sih ya Alahamdulillah, hehe. Bukankan rejeki udah ada yang mengatur?

Hmm, ketika datang suatu pilihan, antara kekayaan atau kecukupan, kalian memilih yang mana? Hmm, kalo aku sih milih kecukupan aja deh. Loh, bukannya enak jadi orang kaya?, mau ini mau itu banyak duit enak lah kalo mau beli tinggal tunjuk aja. Loh, siapa bilang kecukupan itu gak enak, siapa bilang menjadi orang yang berkecukupan itu gak bisa lebih bahagia dari orang kaya? Kalo cukup buat beli yang lebih dari yang orang kaya punya ya enak toh? Hahaha. Ya iya laah. Bukan begitu maksudnya, jadi kadang menjadi cukup itu lebih bahagia. Dan sekali lagi kebahagiaan bukan diukur dari materi. Belum tentu orang yang hartanya lebih banyak lebih bahagia.

Misalnya aja gini, ada cerita tentang dua orang pemuda, yang satu Cuma punya uang 20 ribu, dan satunya lagi punya uang 2 juta. Kalau kita lihat dari nominalnya sih, mungkin lebih enak jadi orang yang punya 2 juta itu. Tapi setelah dilihat, ternyata si pemuda ber-uang 2 juta itu sama sekali tidak bahagia dengan uang yang dia punya, sedangkan yang uangnya Cuma 20 ribu itu terlihat sangat senang. Loh kenapa, setelah ditanya (pura-puranya nih yaa), jadi ternyata pemuda ber-uang 2 juta itu ceritanya sedang memutuhkan uang labih dari itu untuk membeli gadet seri terbaru yang diimpikannya, sedangkan pemuda satunya, merasa sangat bahagia karena dengan uang yang dia punya,  dia hanya butuh untuk membeli bakso,eh masih ada kembalian ternyata, akhirnya nambah es buah sekalian. Haha, sederhana bukan? Hikmahnya dari cerita ini? Salah satu pelajaran yang bisa diambil dari cerita diatas adalah, bahwa kebahagiaan memang sangat sulit sekali dihitung jika parameternya adalah meteri. Terkadang, jika fokus kita adalah materi, rasa syukur itu menjadi berkurang ketika terus melihat keatas, terus mebanding bandingkan dengan orang lain. Lalu sebaiknya bagaimana? Seperti yang dikatakan sebelumnya, bahwa masalah rizki tak perlu dipusingkan, tapi dicari. Takperlu dikhawatirkan dan dicemaskan, karena Allah Maha Kaya.

Terus apa hubungannya dengan BBM yang naik ini? Tetaplah berfikir positif bahwa semua ini pasti ada hikmahnya, mungkin saja dengan begini kita jadi dilatih untuk lebih cermat mengatur keuangan, atau mungkin dibalik ini semua Allah akan menyalurkan rizkinya melaui hal-hal yang tidak kita sadari. Intinya, keep positive, no more over think about this case, and be grateful.
Have a nice day J


Comments

Popular Posts