Masterpiece of My Old Short Story
Bismillahirrohmanirrohiim....
Oke, jadi beberapa jam yang lalu aku baru aja menyusun ulang dan merapikan isi laptop. Tanpa sengaja aku menemukan sebuah cerpen lama yang dulu pernah aku buat waktu kelas X SMA. Aku masih inget, ini cerpen yang aku buat untuk pelajaran bahasa Indonesia yang diampu oleh Ibu Asnifah. Hahha, bacanya agak ketawa siih, cupu-cupu gimanaa gitu, haha (really can't stop laugh). bahasanya polos alay gak jelas, tapi better lah masih paham sama jalan ceritanya walau aku akui jujur saja alurnya terlalu 'sinetron'. Kayaknya sih efek kebanyak nonton sinetron juga dulu. nah buat yang kepo sama tulisanku pada zaman dahulu kala, check this out guys, but be prepare for your burst laugh yoo haha :P
Judulnya : Awan di Langit
(sejujurnya ini judulnya setelah aku analisa, gak nyambung samasekali ternyata ''-_-) |
Awan
di langit kembali menunjukkan kemurunganya. Aku hanya dapat menatapnya dan
tersenyum getir penuh rasa cemas. Cemas dengan keadaanku yang akhir akhir ini
semendung awan dilangit. Khawatir karena hatiku kini lebih sering menangis.
Tepat
ketika aku melangkahkan kakiku di koridor kelas X, awan kembali menangis. Aku
memejamkan mataku sejenak. Dalam hati kuberharap, semoga keadaanku dikelas
nanti takkan seperti awan pagi ini.
Ketika
melangkahkan kakiku di kelas, kengerian kembali menghantui diriku. Entah mengapa
rasanya aku takut, seolah-olah aku akan memasuki tempat yang sangat mengerikan.
Di dalam kelas, aku sering merasakan berada di dalam penjara dan tinggal dengan
makhluk asing. Tarasa sangat memuakkan. Namun ku paksakan juga diriku untuk
menyapa teman-temanku. Aku meletakkan tasku di tempat dudukku yang selama ini
menemani diriku dalam menimba ilmu. Kemudian setelah itu aku mencoba mendekati
mereka. Tapi entah mengapa ketika aku mendekat ada beberapa anak yang menjauh
dan terlihat menghindariku.
“Pagi
Da… hari ini ada PR gak ya?” tanyaku
basa-basi kepada teman ku firda yang menurutku bagaikan kecap, hitam dan manis.
“Eh
hujanya tambah deres ya?” ucap ary seolah tak mendengar apa yang aku ucapkan.
”Iya
nich, duuh aku gak bawa payung lagi…”
sambung teman ku yang lain.
“Maaf
teman-teman, aku mau Tanya, hari ini ada PR gak
sih?” ucapku agak kesal karena mereka seolah tak mendengar ucapanku.
“Eh
iya PR matematika itu untuk minggu depan kan ?”
jawab salah seoarang temanku yang sepertinya tak di tujukan kepadaku.
“Hhh”
aku menghela nafas, tepat seperti dugaanku, mereka tak ada yang menghiraukan
ucapanku. Apa yang aku lakukan barusan seperti orang bodoh yang tak tahu
apa-apa. Ya, mungkin benar jika aku seperti tinggal dengan makhluk asing. Karena
sepertinya mereka tak mengerti dengan apa yang aku ucapkan mau pun apa yang aku
rasakan sekarang ini.
Bel
masuk berbunyi, anak-anak berlari memasuki kelas. Seperti sebuah komandao, mereka
duduk tenang dan diam. Kemudian tak lama
kemudian seseorang yang cukup kukenal sosoknya memasuki kelasku. Guru yang
tekun dan sangat disiplin. walaupun usianya menginjak kepala 5, semangat
mengajarnya masih terlihat menggebu-gebu. Dengan tergesa, ibu nifa, beitulah
kami biasa memanggilnya memberikan tugas untuk membuat kelompok diskusi.
“Maaf
anak, hari ini, kami selaku guru bahasa Indonesia akan mengadakan rapat. Oleh
karena itu, kalian silakan mengerjakan tugas kelompok seperti yang telah kami
agendakan kemarin, kemudian silakan di kumpulkan.” ucap ibu nifa dan segera
meninggalkan kelas. Banyak senyum yang terukir diantara bibir teman-temanku.
Bibir khas Indonesia
yang lumayan tebal dan unik.
Kemudian
teman-temanku sibuk membagi kelompok mereka masing-masing. Kelompok yang
menurutku sangat tidak adil karena hanya di dasarkan pada ras-ras yang sangat
kental terlihat dikelasku. Akhirnya dengan pasrah aku berusaha mencari
kelompok. Namun mereka seolah tak ada yang mau berbagi tempat untukku. Rasa
sedih kembali menghampiri diriku.
Akhirnya
setelah lelah berkaliling mencari kelompok, aku kembali ketempat dudukku.
Kuambil secarik kertas dan ku tumpahkan semua isi hatiku. Ku tuliskan apa yang
aku rasakan sekarang ini. Tentang kesedihan, kebencian, dan kekecewaan. Semakin
lama aku makin muak dengan keadaan yang ada di kelasku. Akhirnya aku pergi meninggalkan
kelasku yang menyebalkan. Padahal aku tahu saat itu jam pelajaran masih
berlangsung.
Aku
berjalan menyusuri lorong-lorong yang menghubungkan antar ruangan. Terlihat
kelas- kelas yang hening dan tenang. Ingin rasanya hatiku setenang kelas-kelas
yang ku lihat. Aku membayangkan betapa indahnya jika aku tak dikucilkan seperti
sekarang ini. Aku menggelengkan kepala. Ku buang semua lamunan yang ada di
benakku. Aku berkata pada diriku sendiri
“Hadapilah
kenyataan yang ada, ingatlah masalah itu takkan selesai tanpa adanya
penyelesaian.” Kemudian aku melanjutkan niatku ke perpustakaan.
Setibanya
di perpustakaan seorang penjaga perpustakaan menegurku dan menginterogasi
diriku. Dengan pertanyaan yang menutku kurang masuk akal petugas perpustakaan
terus menanyaiku.
“kenapa
kamu kesini, bukankah saat ini seharusnya kamu berada dalam kelas?” selidik ibu
penjaga perpustakaan.
“Hmm…maaf
bu, saat ini guru yang mengampu pelajaran saat ini sedang mengikuti rapat,”
ucapku pelan. Aku tak mengatakan bahwa sebenarnya ada tugas
yang harus di selesaikan. Setelah terlihat puas menanyai hal yang macam-macam, petugas
perpustakaan kembali menyelesaikan tugasnya.
Aku
nenuju rak buku-buku fiksi berada. Aku mengambil buku yang tebal dan menantang.
Kubaca kata demi kata. Kemudian beberapa menit kemudian aku sudah menyelesaikan
sekitar 70 lembar. Saat itu juga aku sudah merasa jenuh. Kemudian aku berniat
kembali ke kelas. Namun rasa kesal masih tersisa dari perlakuan teman-temanku
tadi. Tapi akhirnya ku langkahkan juga kakiku menuju kelasku yang sungguh menyebalkan.
Dengan
langkah yang gontai aku berjalan menuju kelas. Di ujung koridor, tepat di depan
pintu kelasku, aku mendengar ada anak yang sedang membicarakan sesuatu.
Kemudian tak sengaja aku melihat mereka memegang secarik kertas yang rupanya ku
kenal. Oh, itu adalah kertas yang tadi aku pergunakan untuk menulis semua isi
hatiku, kebancianku, penderitaanku, dan semua yang aku rasakan akhir-akhir ini.
Mereka bukan hanya melihatnya, bahkan membacanya. Rasa cemas semakin terasa di
benakku. Aku takut mereka semakin membenciku. Namun kuberanikan diriku untuk
memasuki kelas. Pelan-pelan aku melangkah dan pura pura tak tahu apa yang
terjadi. Aku sadar semua mata tertuju
padaku. Namun aku tak begitu menghiraukannya.
Tak
lama kemudian ada seseorang yang menepuk bahuku. Aku tahu dia adalah Rahma. Teman
kelasku yang menurutku dewasa dan cerdas dalam manghadapi berbagai masalah.
Tanpa sadar aku menangis . kemudian dia mengambil selembar tisu dan mengusap
pipiku yang basah.
“Rahma…apa
salahku?” rengekku.
“Maafkan
kami, mungkin kami selama ini sangat keterlaluan kepada kamu, tapi niat kami
baik. Kami hanya ingin merubah sikapmu yang menurut kami….” Rahma diam sejenak
dan membetulkan jilbabnya yang menambah anggun sosoknya.
“Maaf,
menurut kami perilaku kamu itu…terlalu sombong.” lanjutnya.
Mendengar
pernyataan rahma, hatiku bagaikan di sambar petir. Sekencang petir yang saat
itu juga mencambuk langit-langit mendung yang menggantung. Tanpa mengucapkan
sepatah kata pun, aku segera berlari meninggalkan kelas sejauh-jauhnya. Aku
berlari menuju ruang UKS. Di sana
aku bisa menumpahkan segala kesedihan ku tanpa seorangpun yang tahu. Kerena aku
yakin pada jam pelajaran seperti sekarang ini ruang UKS pasti kosong. Tanpa
ragu aku memasuki ruang UKS.di sana
aku mengis sejadi-jadinya.
Sudah
dua hari ini aku tidak masuk sekolah. Hujan pun masih terlihat rintik-rintik
membasahi halaman depan rumahku. Aku terpaksa berbohong kepada ibuku dan
mengatakan bahwa aku sakit.
Sebenarnya
aku memang sakit. Namun sakit yang aku derita terlalu perih untuk dikatahui
orang-orang. Karena menurutku, sakit ini adalah sakit yang disebabkan perlakuan
teman-temanku. Ya, sakit yang kurasakan adalah sakit hati. Sakit karena mereka
selalu menjauhi diriku. seolah-olah aku adalah gadis kotor pembawa penyakit
menjijikan.
Namun
aku merenung dan mulai mengintrospeksi diri. Mungkin aku yang telah salah. Aku
ingat kata-kata yang di ucapkan rahma dua hari yang lalu. Teman-teman menjauhi
diriku karena aku sombong. Ku ingat-ingat apa yang pernah aku perbuat pada
teman-temanku. Aku terus mencoba menggali ingatan ku lebih dalam. Aku teliti
satu persatu. Oh, aku ingat, beberapa hari yang lalu aku membentak salah
seorang temanku karena telah melakukan kesalahan. Kesalahan yang sebetulnya
masih bisa di maafkan. Bukan hanya itu saja, ingatan ingatan tentang perlakuaku
yang sungguh keterlaluan bermunculan. Tak terasa pipiku basah karena air mata. Oh
tuhan, apa yang telah aku lakukan? Aku yang telah banyak membuat kesalahan
kepada teman-temanku. Bukan mereka yang harusnya meminta maaf kepadaku seperti
apa yang aku harapkan selama ini. Justru aku yang harusnya meminta maaf kepada
mereka. Semakin lama aku semakin menyadari batapa bodohnya diriku.
“TOK-TOK-TOK.”
Terdengar ketukan di pintu kamarku. Dengan segera aku mengusap air mataku dan
beranjak menuju tempat tidurku.kemudian ku buka pintu kamarku. Tercium bau
harum coklat panas kesukaan ku.
“Ganggu
gak?” Tanya mamaku.
“Ooh
nggak kok ma.” Jawabku. Kemudian
degan cepat mamaku segera meletakkan mug berwarna biru dengan motif Doraemon.
“Kamu
lagi ngapain?.” Tanya mamaku lagi.
“Hmm,
gak lagi ngapa-ngapain kok, aku Cuma lagi…” belum sempat aku meneruskan
ucapanku
”Lho,
kamu nagis ya…” Tanya mamaku menyerobot
“Ah
nggak kok ma.” Jawabku berbohong
sambil menunduk dan menyembunyikan wajah ku.
“Jangan
bohong, mama tahu, wajahmu itu terlihat sembab” mamaku terus mendesakku. Tapi
aku tetap bersikeras dan tak mengakui bahwa aku telah menangis.
“Sejak
kapan kamu mulai berbohong sayang, mama nggak
pernah mengajarkanmu berbohong.” ucap mamaku. Tapi aku tetap menggeleng dan
semakin menunduk.
“Kalau
kamu punya masalah, seharusnya kamu ceritaka semua masalah kamu agar masalah
kamu itu tidak terlalu membebani dirimu kerena hanya di pikul kamu seorang
diri, mama rasa itu terlalu berat sayang.” Aku menatap mamaku dengan penuh air
mata. Akhirnya aku ceritakan semua masalah yang aku hadapi saat ini. Termasuk
penyebab aku tak masuk sekolah dua hari ini.
Mamaku
hanya mengelengkan kepala dan mengelus kepalaku.
“Nak,
menurut mama memang kamu yang bersalah, seharusnya kamu jangan bertindak
demikian.” Ucap mamaku menasehati.
“Lalu
apa yang harus aku lakukan sekarang ini ma?” semua itu telah terjadi dan sangat
terlambat untuk merubah semuanya, dan waktu pun nggak akan bisa di putar kembali.” ucapku membela diri.
“Nggak
ada kata terlambat, besok di sekolah segeralah meminta maaf pada teman-temanmu.”
Perintah mamaku.
“Tapi
ma…” rengekku,
“Tapi
apa…” Tanya mamaku.
“Aku
takut mereka nggak menerima diriku kembali”
“yakinlah
bahwa caramu meminta maaf adalah jalan terbaik, dengan begitu mama juga yakin
bahwa teman-temanmu akan menerima dirimu kembali.” Ucap mamaku.
“Hmm
kalau begitu…oke deh, besok aku akan
meminta maaf kepada teman-temanku.” Ucapku mantap.
“Naah
gitu dong, oh iya, setelah kamu
meminta maaf, jangan lupa ubah sifatmu itu, biar nggak ada lagi konflik interen di kelasmu” pesan mamaku.
“Siiip
ma..” ujarku sambil menyambar mug yang berada di meja kamarku.
Pagi
harinya aku siap memasuki kelasku. Dengan doa yang tek henti-hentinya aku
ucapkan, aku terus menapaki lantai menuju kelasku. Setibanya di depan kelas,
aku segera memasuki kelas dan meletakkan tas ku di tempat dudukku. Saat itu
kulihat beberapa anak yang memandangiku heran dan bingung. Tanpa basa-basi
lagi, aku segera berbicara lantang di depan kelas.
“Maaf
teman-teman kalau suaraku mengganggu ketenangan kalian, di sini, aku Cuma mau
meminta maaf atas apa yang aku lakukan selama ini.” Aku berhenti sejenak, ku
lihat ada beberapa anak yang terlihat kebingungan melihat apa yang aku lakukan.
“Aku
tahu kalau kalian merasa nggak nyaman dan mungkin ada beberapa dari kalian yang
nggak suka dengan apa yang aku lakukan…” aku menghela nafas.
“Kemarin-kemarin,
aku merenungi segala hal yang merutku telah membuat sikap kalian berubah
kepadaku selama ini. Aku tahu kalau kalian merasa aku terlalu sombong. Dan
sayangnya aku sendiri baru menyadari hal itu 3 hari yang lalu, dan saat aku
tersadar ternyata apa yang aku lakukan selama ini sungguh keterlaluan.” Aku menatap
teman-temanku.
”Oleh
karena itu, sekarang aku mau meminta maaf dan berjanji akan merubah sifatku, apa
kalian mau memaafkan aku?” tanyaku. Hening, sunyi dan senyap begitu aku
mengucapkan kalimat terakhir. Namun setelah itu terdengar suara bergemuruh yang
menuju kepadaku. Mereka menangis dan memelukku erat sekali. Aku merasa sesak
sekali. Namun semua itu tak ku hiraukan karena saat ini hatiku di penuhi rasa
kebahagiaan. Aku tahu mereka sudah mampu menerima diriku kembali. Sesaat
kemudian mereka mulai melepaskan tangan mereka yang sejak tadi hinggap di
sekitar lenganku. Aku tersenyum dengan penuh lelehan air mata.
Saat
itu juga aku melihat awan di langit yang seputih kapas seolah tersenyum padaku.
Langit cerah, awan putih menggantung indah. Tak terasa hari-hariku kini telah
memasuki awal musim panas. Musim di mana aku bisa tetap memandang awan-awan
yang selalu tersenyum padaku. Dan saat itu pula aku akan merasakan kebahagiaan
yang sangat aku rindukan.
-The End-
Purwokerto,
10 Maret 2009
Jadi gimana setelah baca cerita tersebut diatas? pusing kan? segera cari Paracetamol deh buruan sebelum efeknya lebih kerasa lagi. hhaahaha. Setelah dibaca sampe akhir, tenyata ini tulisan udah dibuat sejak tahu 2009, weeh..udah lama banget ternyata yaa, sekitar lima tahun yg lalu.
Hmmm, ya sudah..sekian aja deh ya tulisan hari ini, karena penulis juga udah mulai merasakan efek pusingnya *halaah, lebay
Sekian
Wassalamualaikum...
Comments
Post a Comment