LDK (Part 1)
Beberapa
waktu yang lau saat aku membongkar tumpukan buku lama (karena ada yang mau
pinjem jadi aku bongkar lagi) aku menemukan sebuah buku kecil dan isinya,
haha..aku yakin ini pasti udah pernah dibaca adikku. Sebuah buku perjalanana
hidup, tentang kegalauan dan beberapa cerita yang menyimpan banyak kenangan.
Salah satu cerita yang susah aku lupakan dan mungkin tidak ingin aku lupakan
adalah tentang pengalamanku waktu SMA megikuti sebuah kegiatan Latihan Dasar
Kepemimpinan (LDK) yang menggoreskan banyak sekali pengalaman, bukan hanya
tentang softskill yang sedang kami asah waktu itu, tetapi juga pengingat betapa
kehidupan ini sangat berarti, dan juga pengingat betapa kuasa Allah begitu
besar. Oke jadi sebaiknya aku ceritakan dari awal aja (dengan referensi catatanku
sendiri yang ditulis pada 25 April 2009, *sungguh catetanya alay banget dan aku
geli sendiri bacanya :P).
LDK
dimulai pada hari selasa (21) hingga hari kamis (23). Registrasi di sekolah
sekitar pukul 2 siang dan langsung diberi tugas. Oia, teman sekelompokku ada 6
orang termasuk aku, mereka ada Indah, Miski, Dwi, Irfan dan Ite yang menjadi
ketua kelompok kami. Tugas yang pertama adalah membuat sebuah nametag dengan
kertas asturo dalam waktu lima menit tanpa bantuan alat pemotong apapun,
makanya bentuknya aneh tak beraturan dan seadanya. Setelah itu kami diberi
tugas untuk melakukan wawancara ke dua tempat berbeda, yaitu RRI dan Polsek.
Hasil wawancara kemudian dipresentasikan. Hari semakin sore dan akhirnya
selesai juga presentasi. Hmm, sebenernya ada sedikit cerita menarik. Jadi
gini..karena kami pun keluar sekolah dan menuju dua tempat tersebut lengkap
denga atribut yang kami pakai, termasuk nametag dengan nama masing-masing, otomatis
banyak orang yang membaca atau sekedar melirik nama itu, termasuk salah seorang
ibu-ibu dipinggir jalan yang tiba –tiba berteriak “Mas Rizki gantengnyaa~~”
dengan suara yang dibuat-buat dan langsung membuat kami tertawa kecuali Ite
(nama sebenarnya Rizki..ah, lupa) yang sedang menjadi terget si ibu tersebut,
diam entah karena geli dengan suara ibu itu atau lagi mikir bagian mana dari
dirinya yang dibilang ganteng, hihi.
Oke
singkat cerita hari sudah malam, saatnya untuk makan malam. Untuk hari pertama
ini kami diberi tugas untuk membawa makan masing-masing, ada nasi, tempe goreng
yang harus berbentuk segi delapan, sop, pisang dan juga susu. Untuk makan ada
beberapa aturan yang harus kami ikuti, beberapa diantaranya adalah menjaga
sikap saat makan dengan posisi badan tegak, tangan yang tidak boleh bersandar
pada meja, tangan dan sedok yang didekatkan kemulut, bukan mulut yang mendekat
ke sendok, tidak ada bunyi (pantes aja kita ga boleh bawa piring plastik, kan
kalo piring plastik ga ketauan kalo bunyi), juga posisi duduk satu meja cewe
cowo dengan posisi cowo di sebelah kanan (ribet dan banyak aturan -_-).
Untungnya aku bilang ke ibuku untuk mengurangi porsi nasiku, karena ternyata
beberapa kali aku membuat suara (yang berarti ada tambahan satu sendok nasi untuk
sekali bunyi). Ini kenyang keterlaluan. Apalagi saat makan pisang, rasanya mual
dan ga sanggup lagi untuk menelan. Untungnya teman sebangku (Fauzi, yang juga
teman sekelas) cukup mampu menghabiskan banyak makanan, (pantes aja menjulang
kaya Kwangsoo :P) dan akhirnya aku menyerah dengan makanku kali itu. Sepertinya
sudah menjadi aturan biologis tubuhku, “makan
banyak berarti cepat lapar”. Dan memang benar akhirnya, sekitar empat jam
setelah makan yang rasanya menyiksa itu (karena dengan waktu yang sangat
terbatas, porsi luar biasa, juga omelan dari para panitia yang super pedes
*lumayan, aku gak bawa sambel waktu itu, mugkin ini gantinya), perutku
berkontraksi lagi dan sebagian dari ventrikulus berteriak meminta asupan ransum
lagi. Tapi itu gak mungkin aku penuhi karena aku sedang dalam perjalanan menuju
bumi perkemahan di Baturraden, sekitar pukul 23.30.
Sungguh tega sekali panitia
ini, setelah kami dikerjai dengan membongkar semua muatan pada carrier
masing-masing saat disekolah, dan menata ulang dalam waktu sangat singkat, kami
sekarang dibawa kesebuah tempat yang membuat tulang merasakan tusukan hawa
dingin. Dengan alasan untuk membuat kami tidak kedinginan, kami dipaksa merayap
diatas rumput yang sudah mulai berembun (karena sepertinya hari sudah berganti)
hingga mencapai tempat yang akan menjadi lahan tenda kami. Beberapa teman
sempat terkena tendangan dari teman yang ada didepannya (karena gelap, dan
kondisi tempat yang tidak berpihak pada kami *medan naik turun, berbatu dan
beberapa tumbuhan berduri juga ada). Setelah mendapat tempat, kami diberi tugas
lagi untuk mendirikan tenda (ini bukan keahlianku, dan aku sama sekali ga bisa
:P, jadi aku Cuma jadi asisten yang mondar-mandir menyediakan ini itu).
Akhirnya selesai dan kami bisa beristirahat (meskipun sulit karena dingin yang
luar biasa).
Kesokan
harinya, atau lebih tepat beberapa jam setelahnya (karena kami dibangunkan lagi
sekitar pukul 03.30, baru beberapa jam kami dapat memejamkan mata) kami dipaksa
jalan dalam kondisi setengah sadar menuju sebuah tempat yang lapang, tetapi cukup jauh dari tenda untuk
sholat Tahajud. Itu adalah pertama kalinya aku sholat diluar ruangan, ditengah
hutan, diterangi cahaya lilin, diatas rumput dibawah naungan langsung langit
yang masih gelap saat itu, sangat berkesan J. Setelah sholat ada muhasabah yang isinya ga beda
jauh dengan Muhasabah yang waktu itu pernah disampaikan pada waktu MOS, dan
berhasil membuat sebagian besar dari kami terharu. Tapi mungkin kali ini karena
kelelahan dan kurang tidur, aku mendengar ada beberapa kali dengkuran yang
entah datang dari mana.
Karena
ternyata kepanitaan ini bekerjasama dengan Pecinta Alam sekolahku, jadi selain
tekanan psikis kami juga mendapat tekanan fisik. Ya memang bukan secara
langsung kami ditonjok atau bagaimana, hanya ada beberapa aturan yang harus
kami lakukan, misalnya untuk setiap kesalahan kami akan mendapat ganjaran
beberapa porsi (1 Porsi = 10 kali push up), atau merayap, atau ketika kami
kehausan, mereka akan meminta kami untuk melakukan sesuatu sebelum kami
mendapat izin untuk minum (lagi-lagi
kami ambil porsi).
Lanjut Part 2 yaa
Comments
Post a Comment