LDK (part 3-end)
Meskipun
hari telah malam, acara masih terus berlajut. Evaluasi dari panitia dengan
suara galak. Jujur aja aku ngantuk berat dan entah mungkin karena the power of
kepepet, bisa-bisanya aku terlelap dalam keadaan berdiri dan posisi menggendong
carrier, mungkin faktor gelap juga membantuku dalam merilekskan mata sejenak.
Barulah setelah salah seorang panitia menyoroti wajah peserta satu persatu
dengan senter, aku baru melek :P.
Ada
sebuah tugas baru, lumayan unik dan cukup menantang. Jadi ada tiga buah benda
yang harus ditemukan, emas, perak dan perunggu. Tiga benda tersebut
disembunyikan di tiga tempat berbeda, yaitu toilet, rumah kosong dan sebuah
tempat yang bentuknya mirip halte. Karena kelompokku ada enam orang, dibagilah
menjadi tiga kelompok. Untuk toilet Indah dan Dwi, rumah kosong aku dan Ite,
halte Miski dan Irfan. Hmm, rasanya agak takut sih waktu mendengar nama “Rumah
kosong” bahkan waktu mau masuk aku sedikit enggan. Bayangkan saja itu ada
dihutan yang gelap, mungkin sekitar jam sepuluh malam, kami memasuki bangunan
tua yang tak terawat. Tapi akhirnya aku dan Ite berhasil menemukan emas (Bukan
emas beneran, Cuma kertas tulisannya emas) di kamar mandi rumah kosong itu.
Brrr, serem. Setelah selesai semua, kami berkumpul. Tapi…oh, Indah sama Dwi
salah ambil, bukan perak yang diambil malah iket rambut yang entah punya siapa
-_- jadi kelompokku Cuma dapet Emas dan perunggu.
Hari
semakin malam dan akhirnya kami tidur. Aku inget, temanku farah sebagian besar
isi carriernya basah, termasuk jaket. Padahal hari kedua ini dingin luar biasa,
akhirnya aku bebagi jaket dengan Farah dan aku inget banget, mimpiku terasa
aneh dan rasa dingin masih bisa aku rasakan dalam mimpi itu.
Beberapa
jam kemudian, kami dibangunkan lagi (sungguh siklus tidur yang tidak
beraturan). Kami dibariskan dan dipaksa merem (padahal udah gelap, ngantuk
pula..merem melek rasanya sama aja -_-). Tiba-tiba kami diculik satu persatu
oleh panitia aku merasakan beberapa teman diseblahku mulai menghilang. Beberapa
saat kemudian aku juga ditarik entah oleh siapa aku masih belum tau. Baru
setelah aku diizinkan membuka mata, didepanku ada Mas Hanif yang waktu itu
menjabat sebagi ketua OSIS. Hmm, aku berskyukur untuk kesekian kalinya karena
karena aku tidak harus bertemu dengan panitia lain yang lebih sangar dan pedas
omonganya. Meskipun demikian, beberapa pertanyaan dari mas Hanif ini membuat
aku harus berfikir lebih keras, pertanyaan dari mulai sikap Hitler hingga studi
kasus terus dipertanyakan secara detail dan tidak akan beralih kepertanyaan
berikutnya jika aku belum memberikan jawaban persis sperti yang diminta. Tapi
setidaknya aku gak harus merasakan omelan dari panitia, karena beberapa aku
dengar mengeluarkan nada tinggi, atau membuat permintaan aneh seperti salah
seorang temanku yang diperintahkan untuk berjanji tidak kemayu lagi didepan
banyak orang.
Hari
semakin terang, hari terakhir kami menjalani kegiatan ini. Masih ada out bond
dan serangkaian kegiatan lain. Saat out bond, kelompok kami ada di urutan tiga J hehe. Salah satu permainan yang paling aku ingat
adalah (lagi-lagi lupa namanya) ada tali yang dibuat sedemikian rupa jadi ada
celah seperti jaring laba-laba. Nah, nanti setiap anggota kelompok diharuskan
melewati salah satu celah ditali itu tanpa menyentuh sedikitpun tali, dan celah
yang diambil harus berbeda. Hmm, baiklah..aku mendapat giliran kesekian dengan
pilihan celah yang paling sempit mengingat teman-temanku yang lain jumbo dan
menjulah seperti giraffe, jadi aku harus bersusah payah menyusun strategi untuk
melewati tanpa harus menyentuh talinya, dan ternyata..cukup mudah karena apa
yang aku lihat sempit pada kenyataanya tidak sesempit saat aku melewatinya
(janggal, memang *karena aku belum bisa menyadari betapa mungilnya aku waktu
itu).
Puncak
acara mulai terasa saat kami dibariskan kembali dan dengan berbagai alasan yang
sebenarnya kurang masuk akal, panitia terus menekan kami dengan ucapan yang
lagi-lagi pedas. Aku ingat sekali dua dari teman sekelompokku, yaitu Miski dan
Indah ditarik maju dan diberi pertayaan aneh-aneh. Jadi mereka ditanyakan
tentang apa makna cinta tanah air. Dengan berbagai cara panitia terus
memojokkan mereka, hingga akhirnya salah satu panitia menumpahkan sebotol air
minum didepan mereka dan memancing mereka unutk mencium air yang sudah
bercampur dengan tanah sebagai ungkapan cinta tanah air. Indah sepertinya mulai
goyah dan sudah menekuk sebgaian badanya bersiap untuk melakukan perintah
konyol itu. Untungnya Miski langsung berteriak tegas bahwa dia tidak akan
menjalankan perintah itu dan bersikeras bahwa bentuk cinta tanah air tidak ada
maknannya jika diungkapkan demikian. Hoho, Miski langsung ditarik panitia dan
entah dibawa kemana dan dirubungi oleh beberapa kakak yang sejak kemarin
berteriak terus (haha, capek kali mas..mba :P).
Hari
semakin siang dan tiba-tiba barisan kami dipisahkan menjadi dua secara acak. Tiba-tiba
panitia mengumumkan secara sepihak bahwa sebagian dari kami tidak lulus. Ini tidak
adil, entah atas dasar apa mereka memetuskan demikian. Disitulah rasa
kekeluargaan mulai terasa. Panitia memberikan pilihan kepada sebagian yang
dibilangnya telah lulus untuk melakukan pengorbanan apa saja yang bisa
dilakukan asalkan kami lulus bersama (haduh..biasa banget dibuat skenario kaya
gini -_-). Akhirnya setelah melakukan perdebatan yang cukup panjang,
terbentuklah kesepakatan untuk melakukan porsi sebanyak 15 dengan bawaan
carrier. Sebenernya agak sinetron sih, tapi rasa haru itu memang ada. Saat persyaratan
dilaksanakan, beberapa dari anggota yang dinyatakan belum lulus mulai melarang
aksi porsi tersebut, banhakn tak sedikit yang mulai berteriak juga dengan muka
lelah yang sembab. Porsi baru selesai dan dihentikan panitia setelah memasuki
angka 14. Jadi belum genap 15 seperti kesepakatan awal.
Akhirnya
dengan penuh suka cita kami semua dinyatakan lulus dari LDK Gladi prawira 2009 J lagi-lagi aku lihat ada beberapa yang menangis
bahagia (haha, terimakasih kepada panitia yang telah berhasil menaik turunkan
emosi kami menjadi se-sinetron ini :P).
Acara
terakhir ditutup dengan makan bersama di atas rumput, diantara pepohonan,
dibawah langit cerah yang teduh dengan semilir angin yang masih menyisakan hawa
dingin.
Pengalaman
yang baru kali itu aku rasakan, mungkin hanya kali itu aku memiliki kesempatan
untuk mendapatkan cerita yang sangat berkesan ini.
Terimakasih Allah, yang telah memberikan banyak sekali hikmah dan pelajaran hidup, dengan sesama manusia dan alam
Terimakasih Teman-teman Purna LDK 2009
Terimakasih juga pada panitia yang menempa kami dengan omelan pedas berkualitas
Dan juga terimakasih pada alam yang mengajarkan betapa kalian sulit ditebak, sulit diduga, tapi begitu berharga bagi kami.
Terimakasih Teman-teman Purna LDK 2009
Terimakasih juga pada panitia yang menempa kami dengan omelan pedas berkualitas
Dan juga terimakasih pada alam yang mengajarkan betapa kalian sulit ditebak, sulit diduga, tapi begitu berharga bagi kami.
The
End J
Comments
Post a Comment