LDK (Part 2)


Kegiatan selanjutnya adalah tracking. Kami dibagi dalam kelompok- kelompok kecil terdiri dari tiga orang. Kelompok kami sebelumnya menyebar dan aku berkelompok lagi dengan Gisel dan Adam. Dalam tracking, medan yang dilalui cukup berat, naik turun dan kami harus tetap dengan carrier (lagi-lagi panitia bilang “carrier kalian adalah nyawa kalian” ya, mungkin memang benar karena segala jenis kebutuhan ada didalamnya). Dan karena carrier yang aku bawa terlalu besar, akhirnya panitia berinisiatif untuk menukar beberapa carrier kami dengan teman yang lain yang sekiranya cocok. Dan sepertinya aku kurang beruntung karena setting carrier teman yang aku pakai sepertinya salah (beban diatas lebih berat) dan ini cukup menyulitkan aku waktu mendapat ganjaran berupa porsi dan merayap. Ditengah perjalanan sempat gerimis dan kami diperintahkan untuk mebuat bivak dari ponco yang masing masing kami bawa. Yah, memang salahku, jadi aku salah bawa ponco dan sangat mustahil mebuat bivak dari ponco yang aku bawa. Jadilah aku kena hukuman lagi. Dan kali ini harus berhadapan dengan ketua PA, untung masnya agak bijak..gak seperti panitia lain yang mukanya entah sudah dilipat berapa kali.

Misi tarcking selesai. Saatnya kembali dan makan siang dengan hasil tangan sendiri. Setiap kelompok diberikan beberapa alat yang bisa dijadikan kompor darurat, serta sebuah panci kecil untuk memasak mie instan. Kompor darurat dibuat dengan cara menggali tanah, kemudian kaleng bekas minuman yang telah dipotong menjadi dua diberi sedikit minyak dan (lupa), setelah itu kaleng dimasukkan kedalam lubang dan siap dijadikan kompor. Yang aku ingat adalah, ketika menggali lubang ini kami menggunakan alat seadanya dan memang cara tercanggih adalah dengan tangan masing-masing. Nah, saat menggali ini aku sempat menemukan beberapa  cacing yang menggeliat, karena khawatir nantinya akan terbakar, akhirnya aku ambil cacing itu dan aku singkirkan dengan tangan langsung. Sebenarnya ini adalah hal sepele, tetapi sedikit menjadi masalah dan membuat aku beberapa saat memikirkannya, karena setelah itu kami makan mie tersebut langsung dengan tangan (lagi-lagi ini ulah panitia yang membuat kami benar-benar merasakan survive di alam), tanpa mencuci tangan lebih dahulu, sumber air cukup jauh, kami mencuci seadanya dengan air minum yang juga harus di manage karena sangat terbatas.

Setelah ashar, kami mendapat tugas lagi untuk membersihkan sampah. Baru beberapa menit, hujan turun dan kami langsung menggunakan ponco untuk melindungi diri. Tak lama kemudian kami digiring kesebuah masjid kosong (sepertinya lama tidak dipakai karena lampu pun gak ada) dan hujan semakin deras. Disinlah aku baru merasakan takut dan ingin sekali segera pulang saat itu juga. Bukan hanya aku, tapi sebagian besar temanku hampir menyerah dan meminta untuk segera dipulangkan. Jadi, salah satu panitia memberikan kabar bahwa status gunung Slamet baru saja dinaikkan ke level siaga, padahal lokasi kami adalah dikaki gunung. Disaat yang sama hujan semakin deras ditambah petir yang membuat keadaan semakin mencekam. Aku melihat kilatan cahaya sangat dekat dan terlihat rendah hampir atau mungkin sudah mencapai tanah. Disaat inilah aku teringat dengan kekhawatiran orang tuaku saat aku hendak berangkat (karena awalnya mengizinkan setengah hati), dan aku membayangkan betapa sedihnya orang tuaku jika sesuatu yang buruk terjadi kepadaku, bahkan aku juga sempat memikirkan kira-kira amalan apa saja yang telah aku lakukan, berapa banyak kesalahan yang telah aku kerjakan, dan aku membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang lain, entah itu baik atau buruk. Aku hanya berdoa semoga semuanya baik-baik saja. Tapi ternyata (kabar ini baru aku ketahui beberapa hari setelah aku pulang), teman kosku (Mba Eka) yang pada saat yang sama juga ada kegiatan Ubaloka tak jauh dari tempat kami saat itu, menceritakan betapa mengerikannya hujan dan kilatan petri itu. Bahkan mba Eka sempat kena, karena saat itu posisi mereka ada diluar ruangan, dan terjebak oleh derasnya aliran sungai yang membatasi mereka. Salah satu pembina mereka yang berusaha mencari pertolongan karena ada salah satu anggota yang terkena petir cukup parah, terpeleset dan terbawa arus sungai. Jenazahnya baru ditemukan sekitar 3-4 jam kemudian. Semoga beliau diberikan kemudahan dalam segala urusannya, mengingat cerita mba Eka yang sempat merasa gak rela kehilangan karena beliau orang yang baik.

Hingga menjelang maghrib hujan mulai reda, kami semua basah kuyup dan hari sudah mulai gelap. Kami wudhu dengan air hujan, dan sholat dengan alat seadanyanya (waktu itu semua barang bawaan kami masih ada dalam tenda dan tak sempat dibawa, meskipun akhirnya diselamatkan oleh panitia). Dalam kondisi basah dan kedinginan luar biasa kami mengerubungi lilin untuk menghangatkan tangan, karena tak mungkin jika kami mengeringkan saat itu juga. Temanku Adam, mulai menunjukkan gejala Hipotermia, tubuhnya mulai kaku dan susah untuk bergerak, terus menggigil. Penanganan yang bisa dilakkan waktu itu dia harus terus menggerakkan badan agar tidak kaku dan dingin. Baru sekitar pukul 8 malam kami menuju tempat bermalam yang baru, masih dalam kawasan bumi perkemahan, tetapi disebuah joglo. Carrier kami ada disana. Segera kami mengganti baju untuk mengusir dingin. Beberapa teman carriernya basah termasuk isinya, bahkan jaket yang menjadi teman setia. Aku bersyukur semua isi carrierku selamat dan tidak basah sedikitpun. 

Hoho...Lanjut ke Part 3 ternyata :P

Comments

Popular Posts