Gobsmacked by First Korean Scenery (Lost in Korea : part II)

Setelah setahun lebih dan hampir 2 tahun berlalu akhirnya aku melanjutkan cerita koreaku ya.. hihihi
(mumpung masih inget). 

Hari pertama kami menginjakkan kaki di korea sekital pukul 7 pagi waktu korea, atau mungkin sekitar jam 5 pagi di Indonesia (WIB). Bagitu sampai dibandara Incheon, masih agak linglung dan bingung (tapi jujur aja rasa takut sedikitpun tak ada, hanya bermodal nekat dan Bismillah aja di setiap langkahnya). Bandaranya sangat bersih dan sangat luas, dan satu hal yang membuat aku kagum adalah, disepanjang lorong dari keluarnya dari pesawat hingga pemeriksaan imigrasi yang sejuk itu di kanan kiri terdapat berbagia lukisan, gambar, yang merupakan penjelasan tentang kekayaan budaya korea seperti kuil, guci, patung entah siapa dll (selain Kpop loh ya tapi, hihi) rasanya seperti ada di museum atau pameran lukisan. Suasana di Bandara Incheon sendiri terasa sangat biru, sepertinya karena efek kaca yang digunakan, kalo kalian udah nonton AADC 2014, nah itu kurang lebih bandaranya mirip gitu, aku malah curiga kalo adegan AADC 2014 itu takenya di incheon juga. Setibaya dipemeriksaan imigrasi yang terakhir, sampai lah kami pada deretan super panjang yang dibedakan berdasarkan dari negara asal, emang gak spesifik satu satu negara gitu, Cuma di bagi bedasarkan asia, eropa dll. Kebetulan banget kami berengan sama rombongan atlet dari eropa (gak tau mereka atlet apa) dilihat dari baju dan atribut yg mereka pakai. Hmmm, aku sempet mikir, jangan jangan mereka ini orang-orang tenar macem Bambang Pamungkas >_< sayang banget kalo melewatkan momen foto bareng. Hahaha

Nah, setelah melewati berbagai pemeriksaan akhirnya tibalah bagi kami untuk mencari koper kami. Well, pertama kali yang aku lihat adalah layar yang luar biasa lebar dipermanis oleh wajah Kom Seo Hyon. 

Maaf, Kim seohyon-nya lagi gak nongol. layarnya yang ada tulisan "best of korean cooking" itu
Tapi untung aku tak terhipnotis oleh itu semua, kami harus segera mencari koper kami. Conveyor yang ada disana,hmmm luar biasa sodara-sodara.. ada belasan bahkan puluhan dengan ukuran yang sangat besar. Jadi untuk menuju satu conveyor ke conveyor yang lain harus berjalan dengan tenaga ekstra, sempat bingung cari kesana kemari (mungkin adalah sekitar 15 menit Cuma buat jalannya aja) dan akhirnya kami menyerah dengan bertanya pada petugas yang ada disana. Dengan ramah petugas bandara tersebut menunjukkan koper-koper yang belum diambil pemilik. Dan uri gabangi isooyo (sok koreawati deeh -_-). Alhamdulillah ketemu. 

Akhirnya kami menuju ruang tunggu yang berada diluar. Kota yang kami tuju adalah Daejon. Untungnya disana ada layar informasi yang berukuran sekitar 2x1 m tanpa tombol alias touch screen di beberapa titik mengenai segala informasi yang dibutuhkan, seperti ketersediaan bis ke beberapa kota, jenis kendaraan yang ada, rute bandara (ini sangat penting karen bandaranya sangat luas), dan juga kita dapat melakukan panggilan dengan petugas disana. Beberapa alternatif kendaran yang ditawarkan ada bis Limousine, Arex (Airport Express), taksi dan sebagainya. Mungkin kami lelah dan akhirnya duduk dulu lah ya sambil foto-foto bentar (agak norak sih, but it’s oke lah yaa, toh ada beberapa orang yang foto-foto juga). Sambil nunggu akhirnya lagi-lagi aku membolang sendiri, mencari ransum untuk kami bertiga. Setelah muter-muter mencari toko yang pas akhirnya aku mendamparkan diriku di 7-11. Awalnya aku masih bingung dengan konversi mata uang won kerupiah, jadi aku liat disana kok makanan-minuman rasanya murah murah banget. Untuk air mineral ukuran 600ml berkisar antara 800-1.800 won. Dan aku menemukan susu yang hanya aku lihat di drama korea, hyeeay, aku memutuskan untuk membeli susu satu ini, hihi. 
                                 
Banana milk. ciri khas drama korea. yg suka nonton drakor past tau susu ini. Btw maafkan kaki jupe yg menggangu pemandangan diatas ya pemirsah
Harganya sekitar 1.600won (tetapi setelah sadar dan terbiasa, ternyata enggak murah juga -_-). Yang lucu disini adalah, ketika membayar, hmm kami  (aku dan mbak-mbaknya) hanya saling diam, transaksi jual beli berlangsung sangat hening, aku menyodorkan makanan yang aku beli dan mbaknya menyodorkan kalkulator yang menjadi penanda berapa banyak aku harus membayar (well, aku gak bisa bahasa korea dan mbaknya sepertinya enggan memakai bahasa inggris, apalagi bahasa Indonesia -_-).
Setelah kembali ke rombongan, aku menemukan sebuah mahluk kecil yang membuat phobiaku mulai kumat. Seekor puddle berwarna coklat menemani pemilik yang sedang duduk disamping tempat dudukku. Aku lemas, tapi tak berdaya juga, takut menyinggung perasaan yang punya (yg punya puddle itu terihat sangat menyayanginya, bahkan memperlakukan seolah itu adalah anak bayi). Akhirnya Siu memahami posisiku dan kami bertukar tempat. 

Sebelum kami memutuskan untuk naik apa ke Daejon, kami kembali memastikan terminal dan bis yang akan kami gunakan melaui informasi layar super lebar tadi. Karena bingung kami mendekati salah satu ibu-ibu yang berada disamping kami untuk menanyakan dimana letak terminal yang harus kami tuju. Dan, yah..ibu-ibu tersebut sangat cantik dan modis berumur sekitar 40an tahun (FYI, Bandara Incheon terasa seperti tempat para fashionista, sebagian besar sangat modis dan terlihat high class). Ibu-ibu tersebut (yang akhirnya kami tahu bernama Bi Nami) sangat ramah tetapi sulit untuk berkomunikasi, sekali lagi…karena aku tak bisa berbahasa korea dan Bi Nami juga tak begitu lancar ber bahasa Inggris, akhirnya Bi Nami menerangkan melalui Layar informasi (yang dipilih dalam opsi hangul/aksara korea, and I don’t understand). Ketika akhirnya kami paham, kami berterimakasih kepada Bi Nami yang telah menerjemahkan informasi tersebut. Awalnya kami mengajak bi Nami untuk foto bersama, but she said that she is shine(actually ‘shine’ in her word means ‘shy’. Kesalahan penerjemahan, but its okay, as long as we understand, hihi).

Singkat cerita akhirnya untuk menuju Daejon kami menggunakan Bis Limousine dengan tujuan Daejon, dengan jam pemberangkatan 10.45. lagi-lagi diloket pembayaran kami melakukan model transaksi jual beli yang sama seperti yang aku ceritakan tadi. Seperti ini
Fungsi lain kalkulator. it was wicked!!
Kami mendapat kursi paling belakang, lumayan enak karena posisinya lebih tinggi sehingga kami bisa melihat pemandangan dengan lebih leluasa. Akhirnya kami pergi meninggalkan Incheon International Air port. Diperjalanan, kami tanpa sengaja yang memang sudah menjadi seharusnya kami melewati jembatan terbesar di Korea, atau dikenal dengan Incheon Grand Bridge. Mungkin karena masih terhitung pagi, kondisinya masih berkabut dan pemandangan diluar tidak begitu jelas. Mungkin ketika kalian searching tentang jembatan ini, yang akan kalian lihat adalah gambar yang seperti ini

Puanjang banget dan indah banget yaa
Tapi gambar yang aku ambil berubah menjadi seperti ini, hahaha
Aku sempet gak ngeh kalo lagi ada diatas jembatan. karena berkabut jadi jalanan gak terihat jelas

Perjalanan menuju Deaejon memakan waktu sekitar 2-3 jam. Menurut informasi, kami harusnya turun di pemberhentian bus pertama, dimana lokasi ini sangat dekat dengan kampus yang akan kami tuju, yaitu University of Science and Technology (UST). Disepanjang perjalanan yang sangat sepi, aku menemukan banyak sekali area perkebunan yang ditanam rapi, dan dikelompokkan berdasarkan jenisnya. Kebanyakan berupa sayuran hijau dan sebagian besar ternyata sudah berupa produk organik. Hmm, keren banget. Selama hampir dua jam yang aku lihat hanya ladang sayur akhirnya aku terlelap tidur. Tak lama kemudian akhirnya kami berhenti pada suatu tempat yang luas, dan banyak sekali toko toko disekitarnya. Ternyata itu adalah rest area. Hmm, berarti bukan disini kami seharusnya turun. Kami istirahat beberapa menit disitu. Banyak penumpang yang turun untuk sekedar ketoilet ataupun membeli makanan. Sedangkan kami, memilih tidur (lagi). 

Rest area. Btw itu didepan kuning biru adalah Limousine juga dengan tujuan lain. Kurang lebih yang kami tumpangi juga bentuknya mirip
Beberapa saat kemudian sopir bis kembali masuk untuk melanjutkan perjalanan. Sebelum kembali kekursi kemudi, pak sopirnya ini ngitungin penumpangnya dari depan sampai belakang, wah wah…salut deh sama cara kerjanya, kalo gini kan bisa menurunkan tingkat ketertinggalan penumpang *ish, apasih bahasanya* akhirnya bapak supir sampai tepat dihadapan kami. Ini adalah kesempatan yang paling pas untuk bertanya, dimana sebaiknya kami turun jika akan menuju UST, atau minimal pemberhentian pertama di Daejon. Pitapiiii... my goodness, he can’t understand English broh, percuma kami menjelaskan panjang lebar dan akhirnya bapaknya menyerah dengan obrolan kami, dan memutuskan untuk memakai bahasa universal tidak resmi : isyarat tubuh, yang hanya berarti “I can’t speak engish”. Lemes se lemes lemesnya, pertama, kami di negeri orang, kedua, kami gak bisa bahasa korea selain anyonghaseyo dan gomawo, ketiga tidak ada alat komunikasi apapun karena kami hanya bergantung pada sinyal wifi, and the last but no least, kami lelah paaak. Entah datang dari mana, ada seorang bapak bapak yang berinisiatif mengakhiri penderitaan kami. Beliau yang akhinya kami kenal sebagai Mr. Park menerjemahkan dan menuntun kami. Kebetulan juga, tempat pemberhentian pertama mereka juga sama seperti kami. Alhamdulillah, pertolongan Allah ada dimana-mana.  
 
Masih bisa foto padahal lagi ga tau arah mau kemana >_<
Sekitar satu jam setelah keluar dari rest area kami memasuki wilayah Daejon. Hmmm, sepi banget loh, walaupun bangunan yang ada disitu sudah menunjukkan adanya peradaban, tapi serius, ini sepi banget. Rasanya seperti ada di kota besar yang penduduknya diculik alien semua, nyaris tanpa aktifitas, padahal itu udah tengah hari. Hmmm, mungkin karena weekend, kami pikir begitu.
Super sepi
Mr. Park akhirnya memberi isyarat kepada kami bahwa sebentar lagi kami akan turun di pemberhentian pertama. Setelah kami semua turun, Mr Park dengan senang hati membatu kami mencari taksi, sambil menunggu Mr park memesan taksi, kami berkenalan dengan Istri Mr park yang kemudian kami panggil dengan Mrs. Park, dan kedua anaknya. Anak sulung Mr Park baru berusia 12 tahun, namananya Park Min Ji, dan anak lelakinya *lupa namanya, baru sekitar 4 tahun.  Asal kalian tau, walaupun Min Ji baru berumur 12 tahun, dia lebih tinggi dr aku -_- maygad. Gayanya sangat casual khas anak muda Korea Selatan, hihi. Tapi dibandingkan dengan gaya-gaya yang (nantinya)banyak kami temui di Seoul, syle Min Ji lebih sederhana dan gak neko neko. Yang membuat kami senang juga, selain keluarga mereka sangat ramah, Mrs Park dan Min Ji cukup lancar berkomunikasi dalam bahasa Inggris, dan akhirnya, rasanya for the first time kami bisa ngobrol agak lama setelah sekian lama kami nyaris frustasi karena tak ada yang paham dengan apa yang kami bicarakan.

foto bareng Mrs. Park & Minji. Sayang sangkin sibuknya nyari taksi Mr. Park gak sempet foto bareng
Akhirnya taksi yang dipesan Mr Park datang juga, hal yang paling aku ingat saat Mr Park berbicara dengan supir taksi yang akan mengatar kami, Mr Park menjelaskan alamat yang hendak kami tuju dan sedikit yang aku tau Mr park bilang “ini teman kami dari Indonesia.” Hmm, rasanya agak senang gimana gitu tiba-tiba dianggap teman padahal kami pun berkenalan tak lebih dari sejam yang lalu. Alhamdulillah ya Allah, rasa syukur tak ada habisnya berkat berbagai pertolongan yang Allah berikan bahkan dalam kondisi yang rasanya tak mungkin sekalipun. Apa jadinya kalau Allah tak memberika pertolongannya melalui Mr Park hari itu? Kami yang benar-benar buta arah benar-benar merasa tertolong. 

Akhirnya kami berpisah dengan Mr Park, dan melanjutkan perjalanan kami menuju UST.
Disepanjang jalan, bapak sopit taksi yang mengantarkan kami banyak bercerita dalam bahasa korea (lagi). Tapi untungnya kali ini bapa supir taksi gomongin boyband yang udah dikenal seantero jagad raya “Super Junior” alias SUJU dan bonus SNSD. Lucunya walaupun bapak supir taksi ngomong bahasa korea dan kami ngomong bahasa inggris, dengan adanya kata “super junior” atau “syupa junio” kalo dibaca degan lidah korea, obrolan kami tetap nyambung. Si bapak bahkan ngajakin high five setibanya kami di tempat tujuan. Aaah, lucu sekali bapak satu ini.
Terimakasih mas mas Suju, berkat kalian kami jadi bisa ngobrol. walaupun satunya ngomong bahasa apa dan satunya nanggepin pake bahasa apa >_<
                                    
Akhirnya, sampailah kami di University of Science and Technology, Daejon




Comments

Popular Posts