Kuliah yang selalu membawaku pada dimensi yang berbeda


Kuliah yang satu ini selalu berhasil membuatku tetap terjaga sepanjang kuliah. Ini adalah salah satu mata kuliah pilihan yang bisa diambil di semester genap ini. Sedikitpun gak ada penyesalan aku ngambil mata kuliah pilihan ini, karena beneran..ini sangat menyenangkan  J. Nah, jadi mata kuliah apakah itu? Dan jawabanya adalah…jreeeng jreeng..Instrumentasi Biologi.  Awalnya mendengar namanya aja aku nggak ngerti maksudnya apa, pelajarannya gimana. Ada yang bilang belajar tentang peralatan lab biologi. Nah waktu itu yang aku pikirkan mungkin nanti kita cuma belajar tentang tabung reaksi, pipet, petri dish, erlenmeyer dan paling pol autoklaf atau mungkin sentrifuge. Dan ternyata dugaanku agak meleset kali ini.

Awal perkuliahan, kami belajar tentang PCR. Nah, apa tuh PCR? Jadi PCR memiliki kepanjangan Polymerase Chain Reaction. Dari bahasanya kalo kita terjemahkan dengan polosan aja kan artinya kira-kira reaksi rantai polimerase. Pada dasarnya PCR itu adalah salah satu teknik untuk memperoleh sekuens DNA tertentu yang diinginkan dengan menentukan batas amplifikasi yang tergantung pada primernya. Hoho, membingungkan ya? Oke baiklah, tenang aja karena kali ini aku bukan ingin bercerita tentang bagaimana PCR itu bekerja, karena info lengkap tentang PCR bisa dilihat di sini

Dipertemuan selanjutnya kami belajar lagi tentang teknik elektroforesis, yang merupakan kelanjutan dari PCR. Mamang elektroforesis gak sepenuhnya digunakan sebagai lanjutan teknik PCR, tapi dengan elektroforesis, bisa diidentifikasi kira-kira apakah DNA yang baru terbentuk sesuai dengan apa yang diinginkan. Oke oke..cukup untuk elektroforesis, karena sekali lagi aku juga bukan ingin cerita tentang Elektroforesis, karena info lengkapnya ada di sini juga.

Di pertemuan kemarin, yang merupakan kuliah pengganti hari selasa lalu, kami kuliah di salah satu bangunan junior di lingkungan kampus Undip. Sebuah bangunan dengan warna  kuning dan biru yang menjadi warna paling mencolok dari gedung tersebut meskipun overall gak dominan. Mirip bangunan kembar dan kebetulan, atau mungkin disengaja ada sebuah bangunan lain disebrangnya yang bentuknya identik. Ah, udah ah lama..jadi sebenernya kami tadi kuliah di Laboratorium Terpadu. Hmm, bangunannya better lah dari kampus biasanya kami belajar (ya iya lah..umurnya aja beda jauh).

Lalu kemarin kami belajar tentang apa? Kami belajar tentang Southern Blot dkk yang merupakan cara memperoleh DNA (atau RNA untuk northern, dan protein untuk western), dengan cara menghibridisasikannya. Nah kan bahasanya mulai alay. Ya sudah lah karena untuk terakhir kalinya aku menegaskan bahwa aku juga bukan ingin bercerita tentang ini. Info lengkapnya mungkin bisa googling aja ya, karena belum sempet nulis juga :P

Okay, lalu apa sih sebenarnya hal yang ingin aku ceritakan?
Jadi gini, di akhir kuliah tadi dosen kami memberikan banyak sekali oleh-oleh dari Korea, yang jelas bukan ginseng korea apalagi soju. Karena bapak juga udah lama pulang dari Korea, jadi kami Cuma dapat oleh-oleh berupa foto-foto yang membuat aku ngileer. Oke, jadi foto apa? Song Jongki? Bukaan, atau Kwangsoo? Nah, apalagi ini -_- aku masih bisa menahan envy kalo buat dua hal itu (meskipun aku akui Jongki itu sangat menawan, haha) tapi sayangnya itu bukan. Foto-foto yang masih berkaitan dengan apa yang kami pelajari beberapa waktu yang lalu. Di awal foto, terlihat bapak menggunakan Headset berwarna merah. Bukan sedang mendengarkan musik, tapi ternyata karena untuk menghindari gangguan ultrasonik yang sedang berlangsung dalam proses pembunuhan *kok serem ya bahasanya* yah pokoknya perlakuan tersebut ke bakteri. Nah, selanjutnya kami diperlihatkan pada meja kerja yang disediakan disana, yang bersandingan dengan meja praktikum atau senisnya apapun itu. Salah satu hal yang mungkin akan agak sulit ditemui dinegara kita adalah model laboratorium yang demikian. Satu meja, berisi peralatan dan bahan yang dibutuhkan untuk setiap orang, jadi gak ada istilah barengan atau berbagi (kalo untuk masalah berbagi sih kondisional katanya, tp mungkin untuk alat-alat kecil spt microtube atau gel elektroforesis, gitu kata pak Anto), jadi meminimalisir yang namanya kehilangan sampel *hoho, menyedihkan. Salah satu alasannya mungkin, hmm..alasan klasik tapi krusial adalah Biaya. Bisa jadi dalam setiap meja berisi peralatan yang kalo dijumlahkan totalnya sekian milyar. Oke, aku juga gak akan membicarakan masalah biaya karena sampai 5000 halaman aku menceritakannya pun rasanya gak akan selesai *berlebihan*

Jadi beberapa alat dan sarana yang kami lihat dilab yang waktu itu menjadi tempat risetnya dosenku selama hampir 2,5 bulan di Korea ada Elektroforesis, PCR, growth chamber, binokular yang langsung terhubung dengan kamera, vorteks, shaker, autoklaf yang ukurannya jumbo, sentrifuge yang jumbo juga, bahkan bisa berisi sekitar 500 ml untuk setiap tabungnya (katanya sih berat), dan ada juga laminar air flow serta peralatan lainnya yang kebanyakan sudah menggunakan sistem komputerisasi.
Sentrifuge

ini versi lain dari autoklaf, bentuknya
bermacam-macam tapi prinsip kerjannya sama

Ini alat untuk PCR
Growth chamber














Oia, bercerita tentang laminar air flow, ada sedikit cerita unik. Jadi gini, ini adalah ceritannya dosen sih, waktu itu dosenku baru dapet beasiswa S2 di Australia. Nah, baru sekitar 6 bulan disana, ada sebuah kecelakaan terjadi. Jadi waktu itu dosenku sedang menggunakan alat tersebut, karena kebetulan nabrak waktu makan siang, jadi *mungkin karena masih terbawa dengan kebiasaan dinegara sendiri atau belum terbiasa dengan peralatan disana yang sistemnya lebih canggih, jadi ditinggallah si laminar air flow itu, lupa kalau peralatan ini disana ada api juga gas. Beberapa saat setelah ditinggal, terjadi kebakaran. Bapak ini belum tau kalo ada kebakaran dan sumbernya adalah kelalaiannya sendiri. Jadi hampir seluruh bangunan terbakar. Tapi akhirnya semuanya berhasil selamat. Kecuali dosenku yang akhirnya dihadapkan dengan supervisornya. Awalnya ya mungkin ada lah sedikit omelan, tapi begitu tau kalo dosenku kuliah karena beasiswa, supervisor ini agak lega karena itu berarti segala kerusakan akan ditanggung oleh pihak pemberi beasiswa. Haha, dan katanya *Cuma katanya aja, supervisor itu justru sedikit agak senang karena itu berarti peralatanya yang rusak akan diganti dengan alat yang  baru, dan mungkin edisi terbaru mengingat sebenarnya beberapa alat yang menjadi korban juga ada yang udah tua  -_-

Menyenangkan sekali hanya dengan melihat foto-foto itu, and it was real  J
aku jadi inget  dengan kunjungan sekitar setahun yang lalu ke UNS. Di sana kami dipertemukan dengan peralatan yang keren banget meskipun hanya ada beberapa, kami bukan hanya mengunjungi lab Biologi tapi juga lab Kimia dan lab Fisika. baru kali itu aku melihat secara langsung peralatan yang super besar (salah satu yg aku inget ada alat yang digunakan untuk mendeteksi struktur kimia dari logam atau apa agak lupa, dan kata ibu yang waktu memandu kami, gak main-main harga untuk satu alat tersebut sekian M..hmm, mahal banget).

Demikianlah cerita tentang salah satu mata kuliah yang selalu tentram sejahtera dan entah kenapa jarang banget aku liat  ada peserta kuliah yang ngantuk, malah ada beberapa mahasiswa sisipan karena secara resmi gak terdaftar dalam mata kuliah ini. 
menyenangkan dan selalu berhasil menciptakan semangat baru untuk keluar dari comfort zone, mencari dunia yang lebih banyak tantangan J
salah satu kalimat yang sering ditekankan oleh dosenku itu adalah Work hard, play harder
Live life to the fullest
Sekian, terimakasih  J

Comments

  1. Replies
    1. apa J?
      ah, itu kali fa, pengaturannya..font itu harusnya gambar orang senyum, tapi terkadang munculnya gak sesuai alias jadi huruf J itu...
      atau kah Jongki, haha

      Delete
  2. ehhh emang ada yang menjadi mahaisiwa sisipan???
    aku ga engeh deh -__-

    ReplyDelete
    Replies
    1. ada pus..haha
      makanya kalo kuliah tengok kanan kiri juga :P
      yg gak nampak secara langsung jg mungkin ada, haha

      Delete
  3. tentu di lab kita tantangannya lebih cetar,
    ayoo wujudkan itu di KP dan TA kamu,
    biar bisa gunain PCR dan elektroforesis ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, iya mba siip sip..masih dalam proses :D
      impian jangka pendek pake dua alat itu :D
      semoga aja lab kita semakin cetar juga, mengingat semakin tinggi minat mahasiswanya

      Delete

Post a Comment

Popular Posts